BAB I PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Tanaman
perkebunan merupakan komoditas yang memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi. Apabila
dimanfaatkan dengan baik akan menambahkan devisa negara. Telah banyak upaya
pemerintah meningkatkan produksi subsektor perkebunan misalnya dengan cara
intensifikasi, ekstensifikasi, diversifikasi dan rehabilitasi. Salah satu
tanaman perkebunan yang diharapkan memberikan sumbangan devisa negara sebagai
komoditi ekspor adalah komoditi kakao.
Komoditi kakao diharapkan dapat menduduki
tempat yang sejajar dengan komoditi perkebunan lainnya, seperti kelapa sawit
dan karet (Siregar et al., 2015). Kakao merupakan salah satu
komoditas yang sangat vital, baik sebagai sumber kehidupan bagi jutaan petani
maupun sebagai salah satu bahan penyedap yang sangat diperlukan untuk
memproduksi makanan seperti kue-kue dan bebagai jenis minuman, limbah kulit
buah kakao juga dapat dijadikan sebagaibahan ternak.
Kakao
merupakan komoditas yang sangat penting dalam dunia perdagangan internasional,
pihak produsen kakao dihadapkan berbagai masalah yang besar terhadap
keberlangsungan usaha dan kehidupan petani kakao yaitu produktivitas yang belum
maksimal, hama, penyakit serta harga biji kakao dipasar internasional yang
sering mengalami fluktuasi (Hatta, 2008).
Produksi
kakao di Indonesia dihasilkan dari perkebunan negara, perkebunan swasta dan
perkebunan rakyat. Lokasi perkebunan kakao dalam skala besar yang diusahakan
oleh perusahaan perkebunan terletak di daerah Sumatera Utara, Jawa Tengah dan
Jawa Timur. Sedangkan perkebunan rakyat terutama di Maluku, Sulawesi Tenggara,
Nusa Tenggara Timur, Irian Jaya dan Aceh.
Provinsi
Aceh merupakan salah satu provinsi yang
terdapat usaha perkebunan kakao rakyat. Wilayah-wilayah sentra produksi kakao
yang ada di Aceh yaitu Kabupaten Pidie, Pidie Jaya, Aceh Utara, Aceh Timur,
Aceh Tenggara dan Bireuen. Lahan yang sudah ditanam kakao seluas 74.547 Ha
dengan produksi 27.295 ton yang didominasi oleh perkebunan rakyat. Sedangkan
luas lahan yang belum dimanfaatkan yaitu 258.067 Ha. Selain itu tanaman kakao
sudah familiar dengan masyarakat setempat. Kakao juga merupakan salah satu
komoditas unggulan ekspor di Provinsi Aceh.
Kabupaten
Bireuen merupakan salah satu kabupaten yang sentra produksi perkebunan kakao di
Provinsi Aceh. Salah satu kecamatan yang memiliki potensi dan peluang yang
cukup besar untuk budidaya kako yaitu Kecamatan Juli. Kecamatan ini mayoritas
penduduknya bermata pencaharian sebagai petani kakao. Kecamatan juli juga
memiliki kondisi dan agrokilmat yang sangat mendukung sehingga memberikan
kontribusi yang cukup besar dalam meningkatkan pendapatan petani dan
perekeomian daerah. Untuk mengetahui luas areal dan produksi kakao di Bireuen
dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel
1. Luas Tanaman dan Produksi Tanaman
Kakao Menurut Kecamatan di Kabupaten Bireuen.
Kecamatan/Sub District
|
Komposisi Tanaman,an/ Composition of Annual Plants
(Ha)
|
Produksi/ Production (Ton)
|
Produktivitas/ Productivity (Kg/Ha)
|
||||
T.B.M
|
T.M
|
T.R
|
Total
|
||||
-1
|
-2
|
-3
|
-4
|
-5
|
-6
|
-7
|
|
1
|
Samalanga
|
45
|
19
|
16
|
80
|
12.35
|
650
|
2
|
Sp. Mamplam
|
104
|
93
|
42
|
239
|
60.45
|
650
|
3
|
Pandrah
|
70
|
117
|
29
|
216
|
76.28
|
652
|
4
|
Jeunieb
|
282
|
253
|
46
|
581
|
164.70
|
651
|
5
|
Peulimbang
|
133
|
148
|
16
|
297
|
95.46
|
645
|
6
|
Peudada
|
302
|
492
|
48
|
842
|
322.26
|
655
|
7
|
Juli
|
923
|
1 153
|
45
|
2,121
|
784.04
|
680
|
8
|
Jeumpa
|
327
|
213
|
34
|
574
|
138.45
|
650
|
9
|
Kota Juang
|
20
|
12
|
5
|
37
|
7.68
|
640
|
10
|
Kuala
|
2
|
4
|
2
|
8
|
2.56
|
640
|
11
|
Jangka
|
3
|
97
|
16
|
116
|
23.31
|
240
|
12
|
Peusangan
|
148
|
85
|
25
|
258
|
54.40
|
640
|
13
|
Peusangan Selatan
|
233
|
571
|
25
|
829
|
391.13
|
685
|
14
|
Peusangan Sb Krueng
|
122
|
388
|
46
|
556
|
258.02
|
665
|
15
|
Makmur
|
178
|
346
|
20
|
544
|
229.05
|
662
|
16
|
Gandapura
|
10
|
49
|
5
|
64
|
31.11
|
635
|
17
|
Kuta Blang
|
71
|
55
|
6
|
132
|
34.10
|
620
|
Jumlah/Total
|
2 973
|
4 095
|
426
|
7 494
|
2 685.35
|
656
|
|
Sumber : Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Bireuen
Berdasarkan
data pada Tabel.1 dapat dilihat bahwa perkebunan kakao di Kabupaten Bireuen
terdapat 17 kecamatan. Kecamatan Juli merupakan daerah yang potensial untuk
dibudidayakan tanaman kakao. Kecamatan ini memiliki luas lahan perkebunan kakao
yang luas dan produksi yang tinggi bila dibandingkan dengan kecamatan lainnya.
Sedangkan luas lahan tersempit dan produksi terendah yaitu pada Kecamatan Kuala.
Luas areal pengembangan kakao berdasarkan data Dinas Perkebunan dan
Kehutanan Kabupaten Bireuen terus mengalami
peningkatan dari tahun 2012 hingga tahun 2016. Umtuk mengetahui pengembangan
luas areal, produksi dan produktivitas kakao di Kabuapten Bireuen dapat dilihat
pada tabel dibawah ini.
Tabel
2. Perkembangan Jumlah Areal, Produksi dan Produktivitas Kakao di Kabupaten
Bireuen Tahun 2012-2016
Tahun
|
Komposisi Tanaman,an/ Composition of Annual Plants
(Ha)
|
Produksi/ Production (Ton)
|
Produktivitas/ Productivity (Kg/Ha)
|
|||
T.B.M
|
T.M
|
T.R
|
Total
|
|||
2012
|
1 418
|
3 877
|
60
|
5 355
|
11 891.03
|
3 067
|
2013
|
1 959
|
3 923
|
60
|
5 942
|
3 882.87
|
990
|
2014
|
2 627
|
3 763
|
281
|
6 671
|
2 540.00
|
675
|
2015
|
2 693
|
3 768
|
417
|
6 868
|
2 438.85
|
650
|
2016
|
2 973
|
4 095
|
426
|
7 494
|
2 685.35
|
656
|
Sumber : Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Bireuen (2016)
Berdasarkan
Tabel 2. Terlihat bahwa pengembangan jumlah areal tanaman kakao terus mengalami
peningkatan dari tahun 2012 hingga tahun 2016, namun peningkatan luas areal ini
tidak diikuti dengan kenaikan jumlah produksi dan produktivitas kakao. Dengan
demikian maka diperlukan penelitian yang mendalam untuk mengatasi masalah ini.
Peningkatan
produktivitas kakao harus terus dilakukan dengan upaya petani melakukan upaya
peningkatan produksi kakao. Peningkatan ini dilakukan dengan memperbaiki
perawatan tanaman kakao dan juga penanganan pascapanen yang baik sehingga
produksi kakao yang ada di Kecamatan Juli mampu bersaing dipasar, memberikan
nilai tambah sehingga pendapatan petani meningkat dan dapat meningkatkan
kesejahteraan petani.
1.2.
Rumusan Masalah
Berdasarkan
uraian latar belakang diatas, maka dirumuskan permasalahan penelitian ini
adalah faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi produksi kakao di Kecamatan Juli
Kabupaten Bireuen ?
1.3.
Tujuan Penelitian
Adapun
tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang
mempengaruhi produksi kakao di Kecamatan Juli Kabupaten Bireuen.
1.4 Manfaat Penelitian
Adapun
hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut :
1. Bagi
Petani, diharapkan dapat berguna sebagai sumbangan informasi yang berkenaan dengan
faktor-faktor produksi kakao khususnya di Kecamatan Juli Kabupaten Bireuen.
2. Bagi
Pemerintah, dapat menjadi bahan masukan dalam mengambil kebijakan untuk
membantu petani dalam meningkatkan produksi kakao di Kecamatan Juli Kabupaten
Bireuen.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Produksi
Produksi merupakan hasil akhir dalam
proses atau aktivitas ekonomi dan memanfaatkan beberapa masukan atau input
(Joerson dan Fathorrozi, 2003). Dengan pengertian ini dapat dipahami bahwa
kegiatan produksi adalah mengkombinasikan berbagai inpu atau masukan untuk
menghasilkan ouput.
Ahyari (2004) menyatakan produksi
diartikan sebagai kegiatan yang dapat menimbulkan tambahan manfaat dan
penciptaan faedah baru, faedah atau manfaat tersebut dapat terdiri dari
beberapa macam, misalnya faedah bentuk, faedah waktu, faedah tempat serta
kombinasi daeri faedah-faedah di atas. Apabila terdapat suatu kegiatan yang
dapat menimbulkan manfaat baru atau menambah manfaat yang sudah ada maka
kegiatan tersebut disebut sebagai kegiatan produksi.
2.2 Teori Produksi
Produksi adalah segala kegiatan yang
menambah nilai guna suatu barang atau jasa. Sehingga dapat memenuhi kebutuhan
manusia dengan cara yang paling efisien (Pamor dan Domiri, 1980).
Koutsoyiannis (1997), mengatakan
bahwa produksi adalah proses atau aktifitas yang mengkombinasikan faktor input
yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu unit ouput, yang biasayna satu
komoditas dihasilkan dari berbagai macam kombinasi input dengan berfokus hanya
pada metode efesien.
Namun bagi pengusaha yang rasional
akan memilih metode produksi yang paling efisisen dalam memproduksi output.
Input meruapakan sumber daya yang dimanfaatkan dan biasa disebut sebagai faktor
produksi. Faktor produksi dibagi menjadi tiga unsur, yaitu luas lahan, modal
serta tenaga kerja.
Apabila pengertian produksi di atas
dikaitkan dengan produksi pertanian maka Hernanto (1994) mengemukakan bahwa
produksi pertanian adalah hasil yang diperoleh sebagai akibat bekerjanya
faktor-faktor produksi terutama faktor produksi modal, luas lahan dan tenaga
kerja.
2.3 Faktor – Faktor yang Mempengaruhi
Produksi
Dalam
usahatani, produksi diperoleh melalui suatu proses yang cukup panjang dan penuh resiko. Panjangnya waktu
yang dibutuhkan tidak sama tergantung
pada jenis komoditas yang diusahakan. Tidak hanya waktu, kecukupan faktor produksi pun ikut sebagai penentu
pencapaian produksi. Proses produksi baru bisa berjalan bila persyaratan ini
yang dibutuhkan dapat dipenuhi. Persyaratan ini lebih dikenal dengan nama
faktor produksi. Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi dalam usahatani yaitu
sebagai berikut:
a.
Luas
Lahan
Tanah
merupakan faktor produksi yang memiliki kedudukan penting dalam suatu
usahatani. Tanah merupakan syarat mutlak bagi petani untuk dapat memproduksi
kakao. Dengan memiliki lahan yang cukup berarti petani sudah mempunyai modal
utama yang sangat berharga sebagai seorang petani karena pada lahan inilah
petani akan melakukan proses produksi sehingga menghasilkan kakao. Faktor
produksi tanah ini termasuk didalamnya air, udara, temperatur, sinar matahari
dan laiinya. Keberadaan fungsi tanah tidak hanya dilihat dari segi luas atau
sempitnya, tetapi juga jenis tanah, macam penggunaan lahan, tegalan, topografi,
pemilik tanah dan lainnya (Daniel, 2002).
Dalam
sektor pertanian luas lahan merupakan luas areal tanah yang disiapkan untuk
melakukan usaha produksi pertanian yang dinyatakan dalam satuan luas hektare.
Luas lahan sangat menentukan besar kecilnya produksi dikarenakan semakin luas
lahan yang digunakan untuk melakukan usaha tani maka semakin tinggi pula
produksi yang dihasilkan begitupula sebaliknya.
b.
Tenaga
Kerja
Tenaga
kerja merupakan faktor yang sangat penting dalam produksi, karena tenaga kerja
merupakan faktor penggerak faktor input yang lain, tanpa adanya tenaga kerja
maka faktor produksi lain tidak akan berarti (Soekartawi, 2003). Dengan
meningkatnya produktifitas tenaga kerja akan mendorong penignkatan produksi
sehingga pendapatannya akan ikut
meningkat.
Tenaga
kerja dalam usahatani terdiri tenaga kerja dalam keluarga dan tenaga kerja luar
keluarga. Tenaga kerja luar keluarga dipekerjakan disaat tenaga kerja dalam
keluarga tidak sanggup menyelesaikan usahatani tersebut. Seluruh tenaga kerja
diupah atau digaji sesuai dengan tingkat upah kerja yang berlaku. Pada usaha
pertanian kecil petani berfungsi ganda, disatu pihak sebagai tenaga kerja dalam
usahataninya dan dipihak lain petani sebagai manajer dalam usaha ini.
c.
Pupuk
Pupuk
adalah suatu bahan yang bersifat organik ataupun anorganik, bila ditambahkan ke
dalam tanah ataupun tanaman dapat menambah unsur hara serta dapat memperbaiki
sifat fisik, kimia dan biologi tanah, atau keseburan tanah. Pupuk banyak macam
dan jenis-jenisnya serta berbeda pula sifat-sifatnya dan berbeda pula reaksi
dan peranannya di dalam tanah dan tanaman. Karena hal-hal tersebut di aatas
agar diperoleh hasil pemupukan yang efisien dan tidak merusak akar tanaman maka
perlulah diketahui sifat, macam dan jenis pupuk dan cara pemberian pupuk yang
tepat (Hasibuan, 2006).
d.
Pestisida
Pestisida
adalah substansi (zat) kimia yang digunakan untuk membunuh atau mengendalikan
hama. Berdasarkan asal katanya pestisida berasal dari bahasa inggris yaitu pest
berarti hama dan cida berarti pembunuh.
Pestisida
yang digunakan di bidang pertanian secara spesifik sering disebut produk
perlidungan tanaman (crop protection
product) untuk membedakannya dari produk-produk yang digunakan dibidang
lain (Djojosumarto, 2008). Pengelolaan
pestisida adalah kegiatan meliputi pembuatan, pengangkutan, penyimpanan,
peragaan, penggunaan dan pembuangan / pemusnahan pestisida.
2.4 Fungsi Produksi Cobb Douglass
Fungsi produksi Cobb Douglass adalah
suatu fungsi atau persamaan yang melibatkan dua atau lebih variabel, dimana
yang satu disebut dengan variabel dependen, yang dijelaskan (Y) dan yang lain
disebut varibel independen, yang menjelaskan (X) (Soekartawi, 2003).
Secara
umum fungsi produksi Cobb Douglass dapat ditulis sebagai berikut :
Y
=
......
Bila
fungsi ini dinyatakan dalam hubungan Y dan X, maka :
Y
= f(X1,X2,...Xi....,Xn)
Keterangan
:
Y = Variabel yang dijelaskan
X = Variabel yang menjelaskan
a,b = Besaran yang akan diduga
u = Kesalahan
e = Logaritma natural
Untuk mempermudah perhitungan, fungsi tersebut
kemudian diransformasikan dalam bentuk linear logaritma, sehingga bentuk
persamaan matematisnya menjadi :
LnY= a + b ln
+
ln
....e
Dengan meregresi persamaan diatas
maka secara terlihat bahwa nilai
dan
adalah tetap walaupun variabel yang terlibat
telah di logaritmakan. Hal ini dapat dimengerti karen
pada fungsi Cobb Douglass adalah menunjukkan
elastisitas X terhadap Y. Jadi, salah satu kemudahan dari fungsi produksi Cobb
Douglass adalah secara mudah dapat dibuat linear sehingga relatif mudah dalam
melakukan analisis.
2.5 Penelitian Terdahulu
Endang
(2004), “Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi Kopi Rakyat di
Kabupaten Temanggung (studi kasus di kecamatan Candiroto Kabupaten Temanggung)”.
Analsis yang digunakan adalah analisis fungsi produksi Cobb Douglas. Berdasarkan penelitiannya bahwa hasil uji-t variabel
luas lahan, jumlah tanaman, jumlah pupuk memberikan pengaruh positif yang
signifikan hingga taraf 5% terhadap produksi kopi di Kabupaten Temanggung.
Sedangkan variabel tenaga kerja mempunyai hubungan yang negatif dab tidak
signifikan terhadap peroduksi kopi di Kabupaten Temanggung.
Asrar
(2015), “Analisis Produksi Usaha Tani Kakao di Desa Masari Kecamatan Parigi
Selatan Kabupaten Parigi Moutong”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
pengaruh jumlah tanaman penggunaan pupuk, pestisida, dan tenaga kerja terhadap
produksi usahatani kakao di Desa Masari Kecamatn Parigi Selatan Kabupaten
Parigi Moutong. Analisis yang digunakan adalah analisis Cobb Douglas. Hasil analisis menunjukkan nilai koefien determinasi
(
) sebesar 0.856, hal
ini diartikan variabel produksi usahatani kakao sebesar 85,6% dipengaruhi oleh
variabel bebas yang diteliti oleh peneliti, sedangkan sisanya dipengaruhi oleh
variabel lain diluar model. Hasil uji-F menunjukkan bhawa secara serempak
variabel jumlah tanaman, penggunaan pupuk, pestisida dan tenaga kerja
berpengaruh nyata terhadap produksi kakao. Hasil uji-t menjelaskan bahwa secara
masing-masing variabel (X) berpengaruh nyata terhadap produksi usahatani kakao
di Desa Masari Kecamatan Parigi Selatan Kabupaten Parigi Moutong.
2.6
Hipotesis
Berdasarkan latar
belakang, perumusan masalah dan tujuan penelitian maka dapat dirumuskan
hipotesisnya yaitu, luas lahan (X1), tenaga kerja (X2), pupuk (X3) dan pestisida (X4) berpengaruh signifikan
terhadap produksi kakao di Kecamatan Juli Kabupaten Bireuen.
2.6
BAB III METODE PENELITIAN
3.1
Lokasi, Ruang Lingkup, Objek dan Waktu Penelitian
Penelitian
dilakukan dengan memusatkan pada petani kakao yang ada di Kecamatan Juli
Kabupaten Bireuen. Ruang lingkup penelitian ini difokuskan pada faktor-faktor
yang mempengaruhi produksi kakao di Kecamatan Juli. Penelitian ini hanya
berfokus pada sisi produksi yaitu luas lahan, tenaga kerja dan modal. Objek
dalam penelitian ini adalah petani kakao yang berada di lokasi penelitian.
Penelitian ini dilakukan pada tahun 2017.
3.2 Jenis dan Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian
ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang
diperoleh langsung dari petani dari hasil wawancara dengan pertanyaan telah
disiapkan terlebih dahulu. Sedangkan data sekunder adalah data yang diperoleh
dari lembaga-lembaga seperi BPS bireuen.
3.3 Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah
petani yang membudidayakan kakao di Kecamatan Juli Kabupaten Bireuen. Populasi
yang dijadikan sampel dalam penelitian diambil secara acak atau metode random
sampel.
3.4 Metode Analisis Data
Metode
analisis merupakan suatu usaha untuk menentukan jawaban atas pertanyaan tentang
rumusan dan hal-hal yang diperoleh dalam suatu penelitian. Data yang sudah
masuk dan sudah terkumpul dianalisis untuk menjawab tujuan dari penelitian.
Teknik analisis data disesuaikan dengan tujuan penelitian. Adapun teknik
analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
3.4.1
Analisis
Fungsi Produksi Cobb Douglas
Dalam
penelitian menganalisis faktor – faktor yang mempengaruhi produksi kakao di
Kecamatan Juli Kabupaten Bireuen ini menggunakan fungsi produksi Cobb Douglass
dengan menggunakan metode Ordenary Least
Square (OPS). Fungsi produksi Cobb Douglass adalah suatu fungsi atau persamaan
yang melibatkan dua atau lebih variabel, dimana yang satu disebut dengan
variabel dependen, yang dijelaskan (Y) dan yang lain disebut varibel
independen, yang menjelaskan (X) (Soekartawi, 2003).
Secara
umum fungsi produksi Cobb Douglass dapat ditulis sebagai berikut :
Y
=
......
Bila
fungsi ini dinyatakan dalam hubungan Y dan X, maka :
Y
= f(X1,X2,...Xi....,Xn)
Keterangan
:
Y = Variabel yang dijelaskan
X =
Variabel yang menjelaskan
a,b = Besaran yang akan diduga
u = Kesalahan
e = Logaritma natural
Untuk mempermudah perhitungan, fungsi tersebut
kemudian diransformasikan dalam bentuk linear logaritma, sehingga bentuk persamaan
matematisnya menjadi :
LnY= a + b ln
+
ln
....e
Dengan meregresi persamaan diatas
maka secara terlihat bahwa nilai
dan
adalah tetap walaupun variabel yang terlibat
telah di logaritmakan. Hal ini dapat dimengerti karen
pada fungsi Cobb Douglass adalah menunjukkan
elastisitas X terhadap Y. Jadi, salah satu kemudahan dari fungsi produksi Cobb
Douglass adalah secara mudah dapat dibuat linear sehingga relatif mudah dalam
melakukan analisis.
3.4.2
Uji
Asumsi Klasik
Suatu
model dikatakan baik untuk alat prediksi apabila mempunyai sifat-sifat tidak
bias linier terbaik suatu penaksir. Selain itu suatu model dikatakan cukup baik
dan dapat untuk memprediksi apabila sudah lolos dari serangkaian uji asumsi
klasik yang melandasinya. Dalam penelitian ini digunakan uji asumsi klasik yang
terdiri dari:
a.
Uji
Multiklonieritas
Uji multiklonieritas berfungsi untuk
menguji apakah pada model regresi terdapat suatu hubungan linear yang sempurna
(mendekati sempurna) antara beberapa atau sesama variabel bebasnya. Uji
dilakukan dengan nilai VIF, jika nilai VIF lebih besar dari 10 maka terdapat multiklonieritas
pada data.
b.
Uji
Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui
apakah variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Data
dikatakan normal apabila titik dalam scatter plot mengikuti garis linear.
c.
Uji
Heteroskedastisitas
Uji
heteroskedastisitas bertujuan menguji apakaah model regresi terjadi
ketidaksamaan variance dari residual suatu pengamatan ke pengamatan yang lain.
Model regresi yang baik yaitu homoskedastisitas atau tidak terjadi
heteroskedastisitas. Heteroskedastisitas terjadi ketika titik kecil dalam
sactter plot membentuk pola.
3.5 Kerangkan Pemikiran
3.6 Definisi Operasional Variabel
1. Petani
kakao adalah petani yang melakukan budidaya kakao di Kecamata Juli Kabupaten
Bireuen.
2. Karekteristik
petani yaitu umur, pendidikan, jumlah tanggungan dan pengalam petani kakao yang
ada di Kecamata Juli Kabupaten Bireuen.
3. Usahatani
kakao adalah kegiatan budidaya kakao oleh petani kakao di Kecamata Juli
Kabupaten Bireuen.
4. Produksi
kakao adalah jumlah hasil fisik yang diperoleh dari usahatani kakao yang
dinyatakan dalam satuan ton di Kecamata Juli Kabupaten Bireuen.
DAFTAR
PUSTAKA
Ahyari, A. 2004. Manajemen Produksi. Edisi
Kedua, BPFE UGM. Yogyakarta.
Djojosumarto, P. 2008. Pestisida dan
Aplikasinya. Agromedia Pustaka. Jakarta.
Hasibuan, B.E., 2006. Pupuk dan Pemupukan.
Universitas Sumatera Utara, Fakultas Pertanian. Medan.
Hatta, R. Gemala. 2008. Pedoman Manajemen
Informasi Pembelian dan Penjualan. Universitas Indonesia. Jakarta.
Hernanto Fadholi. 1994. Ilmu Usaha Tani.
Jakarta. Heru.
Joesran dan Fathorrozi. 2003. Basic
Econometrics, Fourth Edition, McGraw Hill, New York.
Koutsoyiannis, A. 1997. Modem Economics.
The Macmillan Press ltd. Londonand Bassingtoke.
Soekartawi. 2003. Teori Ekonomi Produksi
dengan Pokok Bahasan Analisis Fungsi Cobb-Douglass, PT.Raja Grafindo Persada.
Jakarta.
No comments:
Post a Comment