Wednesday, May 2, 2018

Analasis Pengaruh Atribut Terhadap Keputusan Konsumen dalam memilih Produk Top Coffee di Kota Bireuen


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Di indonesia kopi adalah komoditi industri pertanian yang sangat penting. Usaha produksi kopi merupakan sumber kehidupan jutaan keluarga dan petani kopi. Ekspor kopi termasuk sumber penerimaan devisa terpenting di Indonesia, juga tergolong salah satu sumber pemasukan bagi negara produsen kopi. Indonesia mampu mengembangkan ekspor kopi ke berbagai negara.
            Minum kopi telah menjadi budaya bagi masyarakat Aceh, khususnya bagi masyarakat Bireuen. Hal ini terlihat dari banyaknya masyarakat yang berkumpul diwarung kopi pada waktu tertentu, misalnya pagi atau sore hari.
Permintaan akan kopi semakin meningkat setiap tahunnya. Besarnya permintaan tersebut menjadikan produsen kopi menjadi lebih inovatif dalam mengembangkan produknya untuk merebut pangsa pasar, salah satunya dengan mengembangkan kopi instan kemasan saset. Berkembangnya teknologi informasi, membuat konsumen memiliki kebebasan dalam memilih produk kopi sehingga meramaikan persaingan pasar yang begitu ketat diantara produsen kopi instan kemasan saset. Hal ini ditandai dengan munculnya merek-merek kopi instan seperti Top Coffe, Nescafe, White Coffe dan lainnya. Setiap produsen tersebut menyuguhkan rasa, kualitas, harga, kemasan dan periklanan yang berbeda dengan pesaing.
            Produk Top Coffee kemasan saset adalah produk inovatif diferensial dari perusahaan Wings Food yaitu perusahaan fast Moving Consumer Goods yang meluncurkan kopi instan dengan merek Top Coffee. Top Coffe  lahir dari riset pasar selama dua tahun untuk menganalisa peluang bisnis, tren pasar hingga karakteristik, produk dengan isi kemasan produk adalah perpaduan dari jenis kopi robusta dan kopi arabika, dengan dua keunikan karakter yang berbeda.
            Untuk menumbuhkan rasa percaya diri pada calon pembeli, perusahaan Wings Food sebagai produsen produk Top Coffee telah menciptakan bentuk kemasan yang khas dengan dua keunikan yang berbeda yang mencerminkan perpaduan rasa kopi robusta dan arabika, dimana bentuk fisik saset dalam kemasan yang ketat dan berwarna hitam dengan variasi warna lainnya yang dapat memotivasi kepada bentuk referensi atau bentuk kesukaan, khusus pembeli kopi saset.
            Konsumen menganggap rasa sangat menentukan selera. Daya tarik pembelian kopi saset di masyarakat Bireuen dipengaruhi oleh kemasan yang menarik dan promosi yang masif di berbagai media.

1.2  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, adapun yang menjadi perumusan masalah dari praktikum ini adalah ; bagaimana rasa, harga, kualitas, kemasan dan iklan mempengaruhi keputusan pembelian produk Top Coffee kemasan saset di Kota Bireuen.

1.3  Tujuan
            Untuk mengetahui pengaruh rasa, harga, kualitas, kemasan dan iklan terhadap keputusan pembelian produk Top Coffee kemasan saset di Kota Bireuen.


BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1  Pengertian Perilaku Konsumen
Konsumen berbelanja dipengaruhi oleh tindakan emosional dan rasional. Tindakan emosiaonal yaitu menyangkut dengan keinginan terhadap suatu barang, dimana setiap pengorbanan yang dilakukan untuk memenuhi keinginannya. Sedangkan tindakan rasional adalah keinginan berbelanja untuk memenuhi kebutuhannya. Tindakan emosional dan rasional telah membawa konsumen dalam berbelanja atau tindakan yang mempengaruhi terhadap keputusan pembelian.
Perilaku konsumen adalah dinamika interaksi antara pengaruh dan kesadaran, perilaku dan lingkungan dimana manusia melakukan pertukaran aspek-aspek kehidupan. Aspek-aspek pemikiran itu meliputi pemikiran, perasaan dan lingkungan. Adapun lingkungan yang mempengaruhi pemikiran dan peraaan adalah meliputi iklan, informasi harga, penampilan produk, kelas produk dan sebagainya.
Menurut Engel, Blackwell dan Miniard, perilaku konsumen adalah tindakan-tindakan produk dan jasa termasuk didalamnya adalah proses keputusan yang mengawali serta mengikutitindakan pembelian tersebut. Tindakan tersebut adalah terlibat secara langsung dalam proses memperoleh, mengkonsumsi bahkan membuang atau tidak jadi menggunakan suatu produk atau jasa tersebut.

2.2 Atribut Produk
            Atribut produk menjadi bagian yang sangat penting bagi sebuah produk, dimana sikap merupakan suatu persepsi dari penilaian konsumen terhadap atribut-atribut kunci atau keyakinan yang dipegangnya yang berkenaan dengan sikap tertentu dari objek. Adapun atribut produk yang mempengaruhi perilaku konsumen untuk membuat keputusan dalam pembelian produk, yaitu ;
a.       Rasa
Produk yang memiliki rasa yang beragam adalah yang dapat memenangkan persaingan dalam merebut pangsa pasar. Wijaya (2014) mengemukakan bahwa rasa produk pangan adalah sensasi yang diterima oleh alat pengecap kita yang berada dirongga mulut. Perbedaan rasa merupakan indikator dari produk baru atau lama yang diproduksikan, dimana perbedaan rasa diantara konsumen barang dan jasa akan selalu berbeda.
b.      Harga
Harga merupakan sebuah pembayaran yang berupa pengorbanan konsumen dalam mendapatkan produk yang diinginkan atau dibutuhkan. harga adalah atribut penting dalam pemasaran produk, dimana tanpa penetapan harga produk tidak berarti.
c.       Kualitas
Kualitas adalah barang yang mampu memenuhi semua keinginan dan kebutuhan konsumen. Kualitas produk menunjukkan ukuran tahan lamanya produk itu, dapat dipercaya produk tersebut, ketepatan produk, mudah mengoperasikan dan memeliharanya serta atribut lain yang dinilai (Assauri, 2013).
d.      Kemasan
Kemasan adalah pembungkusan produk untuk dapat melindungi terhadap perubahan kimiawi atau terhadap perubahan lingkungan. Kemasan yang menarik adalah strategi pemasaran agar memberi kesan kepada produk yang berkualitas serta untuk mengundang motivasi pembeli.
e.       Iklan
Iklan bertujuan untuk memperkenalkan ide-ide atau produk ke konsumen, jika konsumen merasa cocok dalam memenuhi kebutuhannya konsumen akan mendaptkan kepuasan dan selanjutnya untuk terus membeli produk tersebut.
BAB III
PEMBAHASAN

Setelah kegiatan praktikum ini dilakukan, kami dapat membuat suatu analisis tentang perilaku konsumen terhadap suatu produk dengan menggunakan aspek penilaian dengan berbagai atribut yang dimiliki seperti rasa, harga, kualitas, kemasan dan iklan.
1.      Rasa
Berdasarkan praktikum yang kami lakukan dengan mwawancarai 20 responden yang memesan Top Coffee di beberapa warung kopi di Kota Bireuen. Dari beberapa pertanyaan yang diajukan dapat diketahui bahwa rasa Top Coffee memiliki ciri khas tersendiri sehingga pencinta kopi lebih senang memesan Top Coffe daripada kopi saset lainnya. Konsumen mengatakan bahwa Top Coffe memiliki rasa yang berbeda dengan kopi yang lainnya.
2.      Harga
Dari praktikum yang kami lakukan, masyarakat juga memilih Top Coffe karena harganya yang terjangkau. Harga yang ditawarkan dengan rasa yang disajikan, konsumen sepakat bahwa hal ini sesuai. Harga secara langsung mempengaruhi konsumen untuk memilih produk produk kopi instan Top Coffe.
3.      Kualitas
Kualitas merupakan ukuran seberapa bagusnya produk tersebut digunakan.
Berdasarkan praktikum yang kami lakukan masyarakat umumnya mengatakan bahwa kualitas Top Coffe tidak jauh berbeda dengan kualitas kopi yang biasanya dinikmati masyarakat kota Bireuen. Minuman Top Coffe tidak terdapat ampas yang biasanya jadi pengganggu dari penikmat kopi sashet.



4.      Kemasan
Kemasan juga menjadi daya tarik dari produk Top Coffe. Kemasan sashet menjadikan produk ini praktis dan memudahkan pecinta kopi membawa produk ini kemana-mana. Dari praktikum yang kami lakukan responden menyatakan bahwa kemasan tidak terlalu berpengaruh dalam memilih produk ini.
5.      Iklan
Top Coffe melakukan promosi yang masif di berbagai media yang ada, selain itu mereka juga memanfaatkan artis nasional seperti Iwan Fals untuk mempromosikan produknya. Dari wawancara yang kami lakukan konsumen mengatakan bahwa mereka mengenal produk ini dari iklan. Mereka penasaran dengan iklan yang disajikan sehingga mereka mencobanya. Artinya iklan ikut mempengaruhi perilaku konsumen untuk mencoba produk ini.


















KESIMPULAN

Berdasarkan praktikum yang telah kami lakukan dapat disimpulkan bahwa atribut produk mempengaruhi perilaku konsumen dalam memilih produk. Atribut tersebut antara lain adalah rasa, harga, kualitas, kemasan dan iklan. Dari atribut tersebut rasa, harga, kualitas dan iklan lebih berpengaruh terhadap keputusan konsumen dalam memilih produk sedangkan kemasan tidak terlalu berpengaruh dalam keputusan konsumen memilih produk tersebut.

















DAFTAR PUSTAKA

Assauri, Sofyan. 2013. Manajemen Pemasaran. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
Mahardianto, Agus. 2013. Pengaruh Iklan Kopi Top Coffee Terhadap Keputusan Pembelian Pada Konsumen di Kota Jember. Skripsi. Fakultas Ekonomi, Universitas Jember. Jawa Timur.
Wijaya, Hanny. 2014. Arti Cita dan Rasa. http://ratnaza16.wordpress.com/tugas-tips/artikel. Di akses 14 April 2018, jam 15:22.

Thursday, April 12, 2018

Makalah Lengkap Manajemen Agribisnis


BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Akhir-akhir ini pembahasan tentang agribisnis telah berkembang sedemikian rupa sehingga menarik perhatian banyak orang, baik dari kalangan yang biasa mempelajari bidang pertanian maupun kalangan non pertanian. Keadaan ini seperti dapat dimengerti karena kondisi perekonomian di Indonesia sudah mulai bergeser dari semula didominasi oleh para sektor primer (khususnya hasil-hasil pertanian) ke sektor sekunder (industri). Disamping itu adanya kemauan politik (political will) dari pemerintah yang mengarahkan perekonomian nasional yang berimbang antara sektor pertanian dan industri menjadi saling mendukung. Agribisnis merupakan suatu cakupan bisnis yang sangat luas dan terbagi kedalam subsistem-subsistem. Antar subsistem –subsistem tersebut saling memiliki keterkaitan yang sangat erat, sehingga memerlukan manajemen yang terintegrasi. Jika tidak tidak, maka subsistem-subsistem tersebut akan berjalan secara sendiri-sendiri. Akibatnya sistem agribisnis menjadi kacau. Manajemen agribisnis pada prinsipnya adalahpenerapan manajemen dalam sistem pertanian secara luas. Oleh karena itu sesorang yang hendakterjun dibidang agribisnis harus memahami konsep-konsepmanajemen dalam agribisnis yang meliputi pengertian manajemen, fungsi-fungsi manajemen, tingkatan manajemen, prinsip-prinsip manajemen dan bidang-bidang yang ada dalam manajemen. Selain itu, Manajemen agribisnis memiliki karakteristi-karakterisrik yang khas sehingga perlu dibedakan dengan manajemen yang lain. Oleh karena itu wawasan seputar manajemenagribisnissangat penting untuk diketahui.

B. Tujuan
 Makalah ini bertujuan untuk menjelaskan konsep dasar dari manajemen agribisnis serta ruang lingkupnya, karakteristik dari manajemen agribisnis serta fungsi-fungsi yang terdapatdalam manajemen agribisnis.  

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian dan Ruang Lingkup Manajemen

Agribisnis Manajemen agribisnis mengandung pengertian dari 2 kata yaitu manajemen dan agribisnis. Manajemen berarti seni (art) dan ilmu (science) untuk melaksanakan suatu rangkaian pekerjaan melalui penggunaan sumberdaya. Menurut Stoner dan Freeman (1989) manajemen adalah perencaaan, pengorganisasian, pemimpinan, dan pengendalian upaya anggota organisi dan proses pemanfaatan sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Menurut pendapat lain manajemen adalah suatu proses untuk mencapai hasil-hasil yang diinginkan dengan menggunakan sumber daya yang tersedia dengan menjalankan fungsi-fungsi manajemen yaitu fungsi perencanaan, fungsi pengorganisasian, fungsi pengarahan dan pengimplementasian dan fungsi pengawasan dan pengendalian.

Menurut Subiakto Tjakrawerdaya (1996), agribisnis secara umum mengandung pengertian sebagai keseluruhan operasi yang terkait dengan usaha untuk menghasilkan uasaha tani,untuk pengolahan dan pemasaran. Sedangkan menurut Ikhsan Semaoen (1996), agribisnis adalah suatu kegiatan usaha yang berkaitan dengan sector agribisnis mencakup perusahaan yang pemasok input agribisnis dan jasa pengangkutan,jasa keuangan. Dengan arti lain Agribisnis adalah semua aktivitas dalam bidang pertanian mulai dari industri hulu,usaha tani,industri hilir hingga distribusinya.

Dengan demikian Manajemen Agribisnis adalah suatu kegiatan dalam bidang pertanian yang menerapkan manajemen dengan melaksanakan fungsi fungsi perencanaan,fungsi pengorganisasian,fungsi pengarahan dan fungsi pengawasan serta pengendalian dengan menggunakan sumber daya yang tersedia untuk menghasilkan produk pertanian dan keuntungan yang maksimal. Manajemen agribisnis lebih tepat dikatakan sebagai bentuk manajerial ekonomi. Manajemen agribisnis tidak hanya menjelaskan adanya fenomena agribisnis (sebagai ilmu ekonomi pertanian), namun lebih menekankan bagaimana seharusnya agribisnis itu dilakukan.

Untuk itulah manajemen agribisnis tidak cukup hanya memiliki landasan teori ekonomi akan tetapi juga teori kewirausahaan yang di dalamnya termasuk teknik pengambilan keputusan. Berdasarkan pengertian tersebut, maka di dalamnya terkandung kegiatan-kegiatan manajemen agribisnis yang sekaligus merupakan batasan ruang lingkupnya. Secara skematis mata rantai kegiatan agribisnis dapat digambarkan sebagai berikut : Keempat subsistem tersebut mempunyai ruang lingkup kegiatan sebagai berikut :

• Subsistem penyediaan sarana produksi Menyangkut kegiatan penyediaan dan penyaluran sarana produksi pertanian yang didasarkan pada perencanaan dan pengelolaannya, sehoingga sarana produksi tersebut memenuhi 5 kriteria tepat (tepat : waktu, jumlah, jenis, mutu, dan produk). Kegiatan-kegiatan ini mempunytai keterkaitan kebelakang dengan industri-industri hulu.

• Subsistem usahatani/ produksi Menyangkut kegiatan-kegiatan pembinaan dan pengembangan usaha tani dalamrangka meningkatkan produksi primer pertanian. Termsuk dalamkegaiatan ini adalah pemilihan lokai usaha tani, pemilihan komoditas, pemilihan teknologi serta pola usaha tani.

• Subsistem agroindustri /pengolahan hasil Menyangkut kegiatan-kegiatan pengolahan hasil usahatani yang merupakan keseluruhan kegiatan mulaidari penanganan pascapanen sampai pada tingkat pengolahan lanjutan hasil pertanain, dengan maksud untuk menambah addedvalue dari produksi primer.

• Subsistem pemasaran Menyangkut kegiatan pemasaran haasil-hasil pertanian atau hasil agroindustri, yang ditujukan untuk pasar domestik (dalam negeri) ataupun pasar luar negri (ekspor).

Lingkup kegiatan agribisnis
1) Pertanian Sektor pertanian terbagi atas 2, yaitu :
 1. Pertanian Lahan Basah atau Sawah. Pertanian Lahan Basah merupakan usaha tani yang dilaksanakan pada hamparan yang sangat membutuhkan perairan. Perairan sawah biasanya dilakukan untuk komoditi padi, jagung dan kacang-kacangan.
 2. Pertanian Lahan Kering atau Ladang Pertanian Lahan Kering adalah pertanian yang tidak membutuhkan pengairan intensif. Komoditas ladang biasanya berupa palawija, umbi-umbian dan holtikultura.
2) Perkebunan Perkebunan merupakan usaha tani di lahan kering yang ditanami dengan tanaman industri yang laku di pasar, seperti : karet, kelapa sawit, tebu, cengkeh , dan lain-lain.
3) Peternakan Peternakan merupakan usaha tani yang dilakukan dengan membudidayakan ternak. Usaha ternak dibedakan atas
§ Peternakan unggas (ayam dan itik)
§ Peternakan kecil (kambing,domba,kelinci, dan lain-lain)
§ Ternak besar (kerbau,sapi dan kuda)
4) Perikanan Perikanan adalah semua kegiatan yang terorganisir berhubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya ikan dan lingkungannya mulai dari praproduksi, produksi, pengolahan sampai dengan pemasaran, yang dilaksanakan dalam suatu sistem bisnis perikanan.
• Perikanan tangkap, dapat dibedakan menjadi perikanan perairan (sungai dan danau) dan perikanan air laut.
• Perikanan budidaya, dapat dibedakan dalam perikanan kolam, perikanan rawa, perikanan empang dan perikanan tambak.
5) Kehutanan Kehutanan adalah kegiatan pertanian yang dilakukan untuk mempoduksi atau memamfaatkan hasil hutan,baik yang timbuh atau hidup secara alami maupun yang telah dibudidayakan.

 B. Karakteristik Manajemen Agribisnis

Mengingat adanya karakteristik agribisnis yang khas (unique) maka manajemen agribisnis harus dibedakan dengan manajemen lainnya. Beberapa hal yang membedakan manajemen agribisnis dari manajemen lainnya menurut Downey dan Erickson (1992) adalah sebagai berikut:
1) keanekaragaman jenis bisnis yang sangat besar pada sektor agribisnis, yaitu dari para produsen dasar ke konsumen akhir akan melibatkan hampir setiap jenis perusahaan bisnis yang pernah di kenal oleh peradaban;
2) besarnya pelaku agribisnis;
3) hampir semua agribisnis terkait erat dengan pengusaha tani, baik langsung maupun tidak langsung;
4) keanekaragaman skala usaha di sektor agribisnis, dari yang berskala usaha kecil sampai dengan perusahaan besar;
5) persaingan pasar yang ketat, khususnya pada agribisnis skala kecil; dimana penjualan berjumlah banyak, sedangkan pembeli berjumlah sedikit;
6) falsafah cara hidup (the way of life) tradisional yang dianut para pelaku agribisnis cenderung membuat agribisnis lebih tradisional daripada bisnis lainnya;
7) kenyataan menunjukkan bahwa badan usaha agribisnis cenderung berorientasi dan dijalankan oleh petani dan keluarga;
8) kenyataan bahwa agribisnis cenderung lebih banyak berhubungan dengan masyarakat luas; 9) kenyataan bahwa produksi agribisnis sangat bersifat musiman;
10) kenyataan bahwa agribisnis sangat tergantung dengan lingkungan eksternal/gejala alam; dan
11) dampak dari adanya program dan kebijakan pemerintah mengena langsung pada sektor agribisnis.

Dari perkembangan karakteristik agribisnis, berimplikasi langsung dalam manajemen agribisnis. Agribisnis sebagai sebuah sistem harus dibangun dengan memperhatikan karakteristik agribisnis itu sendiri, disamping itu juga perlu dikembangkan sedemikian rupa sehingga memiliki kemampuan menyesuaikan diri terhadap perubahan-perubahan yang terjadi. Artinya, agribisnis hulu, usahatani, dan agribisnis hilir harus berada pada satu sistem manajemen yang terintegrasi secara vertikal. Hal ini karena masing-masing subsitem tersebut memiliki ketergantungan yang tinggi.

C. Fungsi-Fungsi Manajemen Agribisnis

Seperti halnya dengan manajemen organisasi lain, baik yang berorientasi bisnis maupun non bisnis, dalam agribisnis juga diterapkan fungsi-fungsi manajemen yang telah dikenal oleh berbagai kalangan, mulai dari perencanaan (planning), pengorganisasian (organising), pelaksanaan (actuating), pengawasan (inspecting), evaluasi (evaluating) sampai dengan pengendalian (controlling).

a) Fungsi perencanaan
Fungsi perencanaan mencakup semuakegiatan yang ditujukan untuk menyusun progran kerja selama periode tertentu yang akan datang berdasarkan visi, misi, tujuan serta sasaran organisasi. Perencanaan dapat dilakukan padabidang produksi, keuangan, persediaan, pemasaran dan lain-lain. Tujuan dari perencanaan adalah menempatkan suatu perusahaan pada posisi yang terbaik berdasarkan kondisi bisnis dan permintaan konsumen pada masa yang akan datang. Fungsiperencanaan menyiratkan suatuupaya untuk memikirkan masa depan organisasi. Seringkali aktivitas yang telah direncanakan tersebut dievaluasi untuk mengetahui kemungkinan hambatan dan kegagalannya. Dengan demikian, jika terdapat terjadinya hambatan maka dengan segera harus disiapkan rencana antisipasi ataupun perbaikan rencana. Jika dilihat dari manajemen fungsional, maka perencanaan dapat berupa perencanaan sumberdaya, perencanaan anggaran dan penerimaan agribisnis, perencanaan produksi dan operasi, perencanaan riset dan pengembangan, dan lain-lain.

b) Fungsi pengorganisasian
 Fungsi pengorganisasian merupakan upaya manajemen untuk mengorganisasikan semua sumber daya perusahaan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Efektiviatas sebuah organisasi sangat tergantung pada kemampuan manajemennya untuk menggerakkan semua sumber daya perusahaan guna mencapai tujuannya. Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai penggerak utama sumberdaya perusahaan yang lain, harus memiliki kemampuan prima dan kerja yang profesional serta ditempatkan pada posisi yang tepat. Fungsi pengorganisasian juga sangat terkait dengan alokasi sumberdaya optimal, sehingga akan diperoleh keterpaduan tugas dan peranan masing-masing sumberdaya optimal dalam aktivitas organisasi. Dari hasil pengorganisasian maka semua sumberdaya termasuk para tenaga kerja yang ada dalam perusahaan memilki peranan dan hubungan yang jelas antar komponen organisasi.

c) Fungsi pelaksanaan
Fungsi pelaksanaan sering kali dibagi menjadi fungsi kepemimpinan, pengarahan, dan koordinasi. Fungsi kepemimpinan menekankan pada bagaimana seorang pemimpin untuk menyalurkan semua kemapuan individu pada aktivaitas organisasi untuk mencapai tujuan bersama. Fungsi pengarahan lebih menekankan pada bagaimana karyawan diarahkan untuk mencapai tujuan organisasi/perusahaan. Pengarahan ditujukan untuk menetapkan kewajiban dan tanggungjawab karyawan, menetapkan hasil yang harus dicapai, mendelegasikan wewenang pada setiap karyawan, menciptakan hasrat untuk berhasil dan mengawasi agar pekerjaan dilaksanakan sebagaimana mestinya. Fungsi koordiansi lebih menekankan pada hubungan koordinasi antar individu, atas berbagai aktivitas organisasi sehingga diperoleh hormonisasi dalam setiap kegiatan. Di lain pihak, fungsi pelaksanaan sendiri lebih menekankan pada proses pelaksanaan kegiatan organisasi sesuai dengan apa yang telah direncanakan.

d) Fungsi pengawasan
Fungsi pengawasan menekankan pada bagaimana membangun sistem pengawasan dan melaksanakan pengawasan terhadap rencana yang telah ditetapkan. Fungsi pengawasan dilakukan secara terus-menerus untuk menjamin agar pelaksanaan berjalan dengan baik. Pengawasan dapat dilakukan oleh individu-individu, sistem, dan atau lingkungan.

e) Fungsi evaluasi
Fungsi evaluasi menekankan pada upaya untuk menilai proses pelasanaan rencana, mengenali ada atau tidaknya penyimpangan, dan tercapai tidaknya sasaran yang telah ditetapkan berdasarkan rencana yang telah dibuat. Fungsi evaluasi ditujukan pada obyek tertentu dan dalam periode waktu tertentu.

f) Fungsi pengendalian
Fungsi pengendalian merupakan suatu upaya manajerial untuk mengembalikan semua kegiatan pada rel yang telah ditentukan. Jika ditemukan adanya penyimpangan-penyimpangan dari prosedur kerja maka dapat segera dilakukan tindakan pengendalian. Begitu juga jika diperoleh tanda-tanda kegagalan dalam mencapai hasil, maka segera diadakan pengendalin untuk memastikan operasi berjalan dengan semestinya. Bahkan pengendalian juga dapat dilakukan dengan penyesuaian-penyesusaian dari rencana awal disebabkan adanya faktor-faktor yang berubah sehingga pencapaian tujuan organisasi dapat dilakukan.

Sesuai dengan prinsip manajemen maka fungsi manajemen dalam agribisnis dapat dikelompokkan menjadi Manajemen Sumberdaya Manusia, Manajemen Keuangan, Manajemen Operasi dan Manajemen Pemasaran.

Ø Manajemen Sumberdaya Manusia ƒ
Seluruh sumberdaya yang dimiliki perusahaan agribisnis pada akhirnya dikelola oleh sumberdaya manusia. Artinya manusia akan menjamin pengelolaan yang efisien. Ada dua bidang yang berkaitan dengan ini yaitu pengadministrasian sumberdaya manusia dalam perusahaan agribisnis dan upaya memotivasi mereka agar bekerja pada kondisi maksimum.

Ø Manajemen Keuangan
Manajemen Keuangan Aspek ini mempertimbangkan akibat dari seluruh keputusan terhadap penerimaan dan laba perusahaan dibidang agribisnis. Artinya manajer dalam hal ini harus mempertimbangkan seluruh sumber pembiayaan dari aspek penerimaan. Dalam bahasa yang umum bidang ini mempertimbangkan kesehatan perusahaan. Peralatan seperti neraca dan rugi laba adalah perangkat yang umum digunakan sebagai alat analisis dalam menentukan kemampulabaan perusahaan.
 Æ’
Ø Manajemen Operasi
Cara mengolah produk semakin lama semakin canggih dengan adanya perkembangan bidang teknologi. Akhirnya perusahaan harus selalu mempertimbangkan ketepatan waktu dan kualitas produk yang dihasilkan. Pertimbangan kualitas, efisiensi dan pemilihan saluran distribusi yang menjamin kualitas adalah bidang manajemen operasi dalam agribisnis. Dalam kegiatan fisik, dikenal juga manajemen logistik yang meliputi kegiatan di sekitar gudang penyimpanan dan transportasi barang dan jasa dari pabrik hingga ke pelanggan. Perusahaan agribisnis yang berhasil adalah perusahaan yang konsisten menghasilkan lebih cepat dan lebih baik.

Ø Manajemen Pemasaran
Manajemen Pemasaran Meliputi kegiatan untuk memahami kebutuhan pelanggan dan secara efektif melakukan upaya pemasaran di tempat penjualan (pasar) dimana kebutuhan itu dirasakan. Khol (1980) mendefinisikan pemasaran produk pertanian sebagai seluruh kinerja kegiatan perusahaan dalam aliran barang, mulai dari titik dimana dihasilkan hingga ke tangan pelanggan. Kata seluruh mewakili lingkup pemasaran pertanian yang luas, sedangkan interval kegiatan menunjukkan adanya saling-ketergantungan antar pelaku. Dalam kegiatan demikian fungsi pemasaran pertanian juga menghubungkan antara daerah penghasil dengan lokasi dimana produk dibutuhkan. Bila kegiatan agribisnis dapat dibedakan menjadi sektor produk makanan (food), industri dan sektor input; maka kegiatan pemasaran terlibat dalam sektor tersebut. Kegiatan ini meliputi penjualan, periklanan, penelitian pemasaran, pengembangan produk baru, pelayanan pelanggan, distribusi fisik, dan penentuan harga – keseluruhannya fokus kepada kebutuhan dan keinginan pelanggan, dan akhirnya berupaya menciptakan kepuasan pelanggan. Kegiatan pemasaran pertanian sering juga disebut sebagai sistem pemasaran pertanian, karena melibatkan banyak pihak mulai dari petani, broker, pengolah, penjual partai besar, grosir, hingga kepada pelanggan. Masing-masing kegiatan berbeda fungsi dalam memberikan pelayanannya.


BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan
Manajemen Agribisnis adalah suatu kegiatan dalam bidang pertanian yang menerapkan manajemen dengan melaksanakan fungsi fungsi perencanaan,fungsi pengorganisasian,fungsi pengarahan dan fungsi pengawasan serta pengendalian dengan menggunakan sumber daya yang tersedia untuk menghasilkan produk pertanian dan keuntungan yang maksimal. Agribisnis sebagai sebuah sistem memiliki 4 subsistem utama, yaitu subsistem penyediaan sarana dan prasarana usaha tani, subsistem usaha tani/budidaya, subsistem pengolahan dan penyimpanan, dan subsistem pemasaran. Keempat subsistem tersebut sekaligus menjadi ruang lingkup atau batasan dalam manajemen agribisnis. Manajemen agribisnis menerapkan fungsi-fungsi manajemen seperti halnya manajemen yang lain, yakni fungsi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan, pengeavaluasian dan pengendalian.

B. Saran
Manajemen agribisnis meimiliki ruang lingkup yang sangat luas, untuk itu diperlukan pemahaman dan wawasan yang lebih dalam. Teori-teori tentang manajemen agribisnis yang digunakan masih terlalu sedikit sehingga dibutuhkan refrensi yang lebih banyak lagi 

DAFTAR PUSTAKA

Http://Agribisnis dan Manajemen Agribisnis.html. diakses pada 28 Februari 2017.
Http://Manajemen Agribisnis.html. diakses pada 12 Maret 2014.
Prasetyo, Edi dan Agus Setiadi. 2004. Pengantar ManajemenAgribisnis. Semarang : Universitas Diponegoro.
Syahza, Almasdi. 2013. Bahan Kuliah Manajemen Agribisnis : Perbedaan manajemen agribisnis dengan manajemen lainnya.

Wednesday, March 28, 2018

Teori Perdagangan Internasional Modern dan Alternatif


Teori Perdagangan Modern dan Alternatif
Rizal Basri










BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Perdagangan merupakan kegiatan tukar menukar barang atau jasa atau keduanya dengan kesepakatan bersama yang telah disepakati antara penjual dan pembeli tanpa adanya paksaan dari salah satu diantara keduanya. Pada masa dimana uang belum ditemukan perdangan terjadi dengan cara tukar menukar barang dengan barang yang dinamakan dengan barter. Barter bisa berlangsung apabila jumlah barang yang ditukar memiliki nilai yang sama yang telah disepakati oleh kedua pihak.
Memasuki masa modern, barter sudah jarang terjadi bahkan tidak terjadi sama sekali karena mengingat susahnya medapatkan barang yang sama nilainya untuk ditukarkan dengan barang lainya. Maka dari itu maka mulailah ditemukannya uang sebagai alat tukar. Uang merupakan alat pembayaran sah yang dikeluarkan oleh suautu negara sebagai alat menukarkan barang dan jasa. Dalam ilmu ekonomi moderen, uang diartikan sebagai sebagai sesuatu yang tersedia dan secara umum diterima oleh semua orang sebagai alat pembayaran untuk pembelian barang dan jasa dan sebagai kekayaan yang dimilki oleh setiap orang. Dengan adanya uang maka untuk menjalin perdagangan akan lebih mudah.
Perdagangan terjadi tidak hanya antar dua orang, antar daerah maupun antar provinsi, namun perdagangan dapat terjadi antar dua negara yang disebut dengan Perdagangan Internasional. Perdagangan internasional merupakan kegiatan tukar menukar barang dan jasa antar satu negara dengan negara lainnya dengan kesepakatan yang telah ditentukan bersama. Perdagangan internasional terjadi ketika sumberdaya yang tersedia dalam negara kekurang maupun berblebihan. Pada saat sumber daya dalam suatu negara kekurangan maka negara tersebut akan melakukan perdangan dengan negara lainnya yang memiliki semburdaya yang berlebihan yang disebut dengan impor. Sedangkan negara yang memiliki sumberdaya yang berlebihan dan melakukan perdagangan dengan negara yang kekurang sumberdaya disebut dengan ekspor.
Kegiatan impor dan ekspor memiliki dampak kepada suatu negara. Dengan impor yang berlebihan dapat menurunkan kesejahteraan produsen dalam negeri. Karena ketika ini terjadi dapat menurunkan harga produk dalam negeri yang sama dengan yang diimpor sehingga dapat merugikan produsen dalam negeri. Namun tanpa adanya impor juga kebutuhan dalam negeri tidak tercukupi sehingga ini juga bermasalah. Begitu juga dengan ekspor, dengan melakukannya ekspor suatu produk dapat meningkatkan devisa negara.
Dampak yang disebabkan oleh perdagangan ini menimbulkan beberapa pendapat para ahli ekonomi seperti Adam Smith dan David Ricardo yang berusaha meluruskan kegiatan perdagangan internasional tersebut. Pendapat para ahli ini dituang dalam teori-teori perdagangan internasional. Adapun teori yang dikemukan oleh para ahli ini yaitu teori klasik (Absolut) yang mengatakan bahwa perdagangan terjadi karena negara memiliki keungulan absolut untuk didagangkan sedangkan teori komparatif yaitu keunggulan dilihat dari produktifitas penggunaan waktu produksi suatu barang.
Dari teori klasik (absolut) dan komparatif ini maka lahirnya teori modern dan alternatif teori.

1.2  Rumusan Masalah
Bagaimanakah teori modern dan alternatif dalam perdagangan ?
1.3 Tujuan
Mengetahui teori-teori perdagangan modern dan alternatif.



BAB II
PEMBAHASAN

Teori Modern
2.1 Teori H-O (Heckescher-Ohlin)
Teori H-O (Heckescher-Ohlin) dalam perdagangan internasional pertama kali dikemukakan oleh Bertil Ohlin dalam buku “Interregional and International Trade” pada tahun 1933. Teori ini muncul sebagai penolakan terhadap teori Adam Smith atau teori klasik yang tidak dapat diterima dan dikritik habis-habisan terutama saat depresiasi yang sangat besar saat itu. Teori Bertil  Ohlin ini didasarkan dari buku gurunya, yaitu Eli Heckscher, sehingga teori ini lebih dikenal dengan teori Heckscher-Ohlin atau disingkat dengan  Teori H-O.
Teori Hecksher-Ohlin (H-0) ini menjelaskan perdagangan antara satu negara dengan negara lainnya. Teori ini mengemukakan bahwa suatu negara akan mengekspor komoditi yang produksinya memerlukan lebih banyak faktor produksi yang relatif melimpah dan murah, dan dalam waktu bersamaan akan mengimpor komoditi yang produksinya memerlukan lebih banyak faktor produksi yang sangat sedikit dan mahal di negara tersebut.
Teori H-O juga menjelaskan mengenai penyebab terjadinya perbedaan produktivitas suatu produk dalam negeri. Teori H-O ini mengatakan bahwa produksi yang melimpah dalah suatu negara dapat menyebabkan tejadinya perbedaan produkstivitas suatu produk oleh setiap negara. Hal ini dapat menyebabkan perbedaan pada harga barang yang dihasilkan. Maka dari itu, teori modern H-O ini dikenal sebagai ‘The Proportional Factor Theory”. Negara yang memiliki faktor produksi yang lebih  banyak dan murah untuk menghasilkan produksinya akan melakukan spesialisasi produksi dan kemudian diekspor barangnya ke negara lain. Sebaliknya, setiap negara akan mengimpor barang tertentu apabila negara tersebut memiliki faktor produksi yang sedikit atau mahal untuk melakukan proses produksinya.
Dalam teori perdagangan internasional modern H-O (Heckescher-Ohlin) dijelaskan dengan menggunaka dua kurva. Pertama  kurva isoquant yaitu kurva yang menggambarkan jumlah kuantitas yang sama. Kedua kurva isocost yaitu kurva yang menggambarkan jumlah biaya yang sama. Dalam Teori ekonomi mikro mengatakan bahwa apabila terjadi persinggungan antara kurva isoquant dan kurva isocost maka akan ditemukan titik optimal. Sehingga dengan penetapan biaya tertentu untuk melakukan produksi suatu negara akan memperoleh produk maksimal atau sebaliknya dengan biaya yang minimal suatu negara dapat memproduksi sejumlah produk tertentu dalam jumlah yang maksimal.
            Menurut Heckescher-Ohlin juga suatu negara dapat melakukan perdagangan internasional apabila memilki keunggulan komparatif yaitu keunggulan dalam teknologi dan keunggulan dalam ketersediaan faktor produksi. Basis dari keunggulan komparatif adalah faktor kelimpahan, yaitu kepimilikan faktor-faktor produksi dalam suatu negara dan faktor Faktor intensity, yaitu teknologi yang digunakan dalam melakukan proses produksi.

2.1.1.  Hipotesis Teori H-O (Heckescher-Ohlin)
Berikut hipotesis yang dikemukakan oleh Teori H-O, antara lain:
1.      Produksi barang ekspor ditiap negara naik, sedangkan produksi barang impor ditiap negara turun.
2.      Jumlah setiap faktor produksi yang dimiliki suatu negara dapat menentukan harga produksi barang tersebut.
3.      Harga labor dari masing-masing negara hampir sama, harga barang jenis A dikedua Negara ini hampir sama demikian pula harga barang jenis B di kedua negara ini hampir sama.
4.      Perdagangan Iternasional akan terjadi antara negara yang mempunyai modal yang besar  dengan negara yang kaya Labor.
5.      Setiap negara akan melakukan spesialisasi produksi dan mengekspor barang tertentu karena negara tersebut memiliki faktor produksi yang sangat banyak dan murah untuk melakukan produksi. Sehingga Negara yang kaya modal dan sumber dayanya maka ekspornya akan lebih besar kepada negara yang kelebihan Labor.
 2.1.2.  Kelemahan Teori H-O (Heckescher-Ohlin)
            Berikut ini beberapa kelemahan dari teori H-O yang dilihat dari berbagai asumsi dalam dalam teori ini.
a.       Asumsi bahwa kedua negara meenggunakan teknologi yang sama kurang valid. Nyatanya kalau dilihat dari kondisi lapangan setiap negara pasti menggunakan teknologi yang berbeda.
b.      Asumsi bahwa persaingan sempurna dalam semua pasar produk dan faktor produksi lebih menjadi masalah. Hal ini dikarenakan oleh sebagian besar perdagangan adalah produk negara industri yang bertumpu pada diferensiasi produk dan skala ekonomi yang belum mampu dijelaskan dengan model faktor kelimpahan dalam H-O.
c.       Asumsi bahwa spesialisasi penuh suatu negara dalam memproduksi suatu komoditi jika melakukan perdagangan tidak sepenuhnya berlaku karena masih banyak negara yang memproduksi komoditi yang sebagian besar adalah dari impor dari negara lain.

2.2. Teori Opportunity Cost
Opportunity Cost digambarkan sebagai production possibility curve (PPC) yang menunjukkan kemungkinan kombinasi output yang dihasilkan suatu Negara dengan sejumlah faktor produksi secara full employment. Dalam hal ini bentuk PPC akan tergantung pada asusmsi tentang Opportunity Cost yang digunakan yaitu PPC Constant cost dan PPC increasing cost.

2.3. Offer Curve/Reciprocal Demand (OC/RD)
Teori Offer Curve ini merupakan teori yang menggambarkan sebagai kurva yang menunjukkan kesediaan suatu negara untuk menawarkan/menukarkan suatu barang dengan barang lainnya pada berbagai kemungkinan harga. Teori ini pertama kali diperkenalkan oleh dua ekonom inggris yaitu Marshall dan Edgeworth. Kelebihan dari teori offer curve yaitu setiap negara akan memperoleh manfaat dari perdagangan internasional yaitu mencapai tingkat kepuasan yang lebih tinggi.
Harga faktor produksi ditentukan oleh permintaan dan penawaran dalam penggunaan faktor produksi. Begitu juga dengan penggunaan teknologi dapat menetukan harga suatu produk. Oleh karena hal ini, semua itu akan berakhir pada penentuan keunggulan komparatif dan pola perdagangan (trade pattern) setiap negara. Untuk dapat bersaing di pasar Internasional, ada dua faktor yang senantiasa diperlukan, yaitu kualitas sumber daya manusia dan teknologi. Teori modern perdagangan Internasional yang baik untuk diterapkan adalah teori Offer Curve.

Teori Alternatif Perdagangan Imternasional
2.4. Teori Kemiripan Negara
            Teori ini dikemukakan oleh Staffan Linder (1961) yang menyatakan bahwa perdagangan terjadi antar negara yang memiliki ciri dan kebutuhan yang sama, yaitu selera dan pendapatan. Ada dua asumsi dalam teori ini, pertama ekspor yang dilakukan oleh sebuah negara harus ke pasar-pasar bebas. Kedua untuk mengekspor ke negara lain maka negara tersebut harus memiliki selera dan tingkat pendapatan yang sama.

2.5 Teori Skala Ekonomis
            Skala ekonomis merupakan skala produksi dimana dengan menggunakan biaya persatuan unit output terendah dapat menghasilkan produksi pada titik optimalnya. Spesialisasi perusahaan terhadap suatu produk  dalam suatu negara dan melakukan ekspor produk dengan harga yang lebih murah dapat terjadi jika terdapat skala ekonomi. Skala ekonomi berhubungan dengan jumlah produksi dan tingkat penggunaan faktor produksi khususnya modal. Dengan demikian maka ketersediaan faktor produksi seperti teori H-O sebagai sumber keunggulan komparatif tidak terlalu relevan dalam teori ini.




2.6 Teori Siklus hidup Produk
            Teori siklus hidup produk juga dapat dijadikan dalam melakukan pendekatan untuk memberikan pejelasan terhadap perdagangan internasional. Dalam teori siklus hidup produk ada empat tahapan yang terjadi baik yang prosesnya panjang maupun prosesnya pendek, yaitu sebagai berikut :
·         Pengembangan inovasi, tahap ini dicirikan dengan modal yang besar dan keberadan sumber daya manusia yang memiliki ketrampilan dalam penggunaan teknologi yang maju. Dengan ciri yang dimiliki tersebut maka dalam tahap ini hanya idustri besar yang dapat melakukannya.
·         Perluasan, dalam tahap ini banyak produk yang di ekspor karena banyaknya permintaan dalam negeri dan nnegara lain meningkat.
·         Kedewasaan, dalam tahap ini terjadi keunggulan yang berpindah dikarenakan harga produk dan tenaga kerja lebih murah dan mudah ditemukan.
·         Penurunan, dalam tahap ini negara berkembang menajdi eksportir sedangkan negara maju mejadi importis yang disebabkan oleh menurunya saingan dari negara maju terhadap negara berkembang.



KESIMPULAN

Dari pembahasan yang dibahas diatas maka dapat diambil kesimpulan bahwa teori perdagangan modern terdiri dari teori H-O (Heckescher-Ohlin). Teori ini merupakan sanggahan terhadap teori klasik yang dikemukakan oleh Adam Smith dan David Richardo. Yang kedua yaitu teori Opportunity cost dan yang terakhir yaitu teori Offer Curve/Reciprocal Demand (OC/RD).
Sedangkan dalam teori alternatif perdagangan internasional terdapat teori-teori tentang teori kemiripan barang, teori skala ekonomi dan teori siklus hidup produk. Dari berbagi teori ini mengemukan hal yang berbeda yang bertujuan menciptakan proses perdagangan internasional tidak hanya menguntungkan satu negara saja.



DAFTAR PUSTAKA

Bertil Ohlin dan Teori Heckscher – Ohlin, http://www.bimbie.com/bertil-ohlin.htm. Diakses pada 26 Maret 2018.
Faktor Penyebab Terjadinya Perdagangan Internasional. http://perpustakaancyber.blogspot.com/2013/12/faktor-penyebab-terjadinya-perdagangan-internasional.html. Diakses pada 26 Maret 2018.
Mengenal Teori Ekonomi Modern: Heckscher – Ohlin.  http://www.bimbie.com/mengenal-teori-ekonomi-modern.htm. Diakses pada 26 Maret 2018.


Tuesday, February 13, 2018

Proposal Penelitian Skripsi "Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi Kakao"

BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Tanaman perkebunan merupakan komoditas yang memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi. Apabila dimanfaatkan dengan baik akan menambahkan devisa negara. Telah banyak upaya pemerintah meningkatkan produksi subsektor perkebunan misalnya dengan cara intensifikasi, ekstensifikasi, diversifikasi dan rehabilitasi. Salah satu tanaman perkebunan yang diharapkan memberikan sumbangan devisa negara sebagai komoditi ekspor adalah komoditi kakao.
Komoditi kakao diharapkan dapat menduduki tempat yang sejajar dengan komoditi perkebunan lainnya, seperti kelapa sawit dan karet (Siregar et al., 2015). Kakao merupakan salah satu komoditas yang sangat vital, baik sebagai sumber kehidupan bagi jutaan petani maupun sebagai salah satu bahan penyedap yang sangat diperlukan untuk memproduksi makanan seperti kue-kue dan bebagai jenis minuman, limbah kulit buah kakao juga dapat dijadikan sebagaibahan ternak.
Kakao merupakan komoditas yang sangat penting dalam dunia perdagangan internasional, pihak produsen kakao dihadapkan berbagai masalah yang besar terhadap keberlangsungan usaha dan kehidupan petani kakao yaitu produktivitas yang belum maksimal, hama, penyakit serta harga biji kakao dipasar internasional yang sering mengalami fluktuasi (Hatta, 2008).
Produksi kakao di Indonesia dihasilkan dari perkebunan negara, perkebunan swasta dan perkebunan rakyat. Lokasi perkebunan kakao dalam skala besar yang diusahakan oleh perusahaan perkebunan terletak di daerah Sumatera Utara, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sedangkan perkebunan rakyat terutama di Maluku, Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Timur, Irian Jaya dan Aceh.
Provinsi Aceh  merupakan salah satu provinsi yang terdapat usaha perkebunan kakao rakyat. Wilayah-wilayah sentra produksi kakao yang ada di Aceh yaitu Kabupaten Pidie, Pidie Jaya, Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Tenggara dan Bireuen. Lahan yang sudah ditanam kakao seluas 74.547 Ha dengan produksi 27.295 ton yang didominasi oleh perkebunan rakyat. Sedangkan luas lahan yang belum dimanfaatkan yaitu 258.067 Ha. Selain itu tanaman kakao sudah familiar dengan masyarakat setempat. Kakao juga merupakan salah satu komoditas unggulan ekspor di Provinsi Aceh.
Kabupaten Bireuen merupakan salah satu kabupaten yang sentra produksi perkebunan kakao di Provinsi Aceh. Salah satu kecamatan yang memiliki potensi dan peluang yang cukup besar untuk budidaya kako yaitu Kecamatan Juli. Kecamatan ini mayoritas penduduknya bermata pencaharian sebagai petani kakao. Kecamatan juli juga memiliki kondisi dan agrokilmat yang sangat mendukung sehingga memberikan kontribusi yang cukup besar dalam meningkatkan pendapatan petani dan perekeomian daerah. Untuk mengetahui luas areal dan produksi kakao di Bireuen dapat dilihat pada Tabel 1.




Tabel 1. Luas Tanaman dan  Produksi Tanaman Kakao Menurut Kecamatan di Kabupaten Bireuen.
Kecamatan/Sub District
Komposisi Tanaman,an/ Composition of Annual Plants (Ha)
Produksi/ Production (Ton)
Produktivitas/ Productivity (Kg/Ha)
T.B.M
T.M
T.R
Total
-1
-2
-3
-4
-5
-6
-7
1
Samalanga
        45
        19
      16
              80
          12.35
 650
2
Sp. Mamplam
      104
        93
      42
            239
          60.45
 650
3
Pandrah

        70
      117
      29
            216
          76.28
 652
4
Jeunieb

      282
      253
      46
            581
        164.70
 651
5
Peulimbang
133
      148
      16
            297
          95.46
 645
6
Peudada
302
      492
      48
            842
        322.26
 655
7
Juli

      923
1 153
      45
         2,121
        784.04
 680
8
Jeumpa

      327
      213
      34
            574
        138.45
 650
9
Kota Juang
        20
        12
        5
              37
            7.68
 640
10
Kuala

          2
          4
        2
                8
            2.56
 640
11
Jangka

          3
        97
      16
            116
          23.31
 240
12
Peusangan
      148
        85
      25
            258
          54.40
 640
13
Peusangan Selatan
      233
      571
      25
            829
        391.13
 685
14
Peusangan Sb Krueng
      122
      388
      46
            556
        258.02
 665
15
Makmur
      178
      346
      20
            544
        229.05
 662
16
Gandapura
        10
        49
        5
              64
          31.11
 635
17
Kuta Blang
        71
        55
        6
            132
          34.10
 620
Jumlah/Total
2 973
4 095
 426
7 494
2 685.35
 656

Sumber : Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Bireuen

            Berdasarkan data pada Tabel.1 dapat dilihat bahwa perkebunan kakao di Kabupaten Bireuen terdapat 17 kecamatan. Kecamatan Juli merupakan daerah yang potensial untuk dibudidayakan tanaman kakao. Kecamatan ini memiliki luas lahan perkebunan kakao yang luas dan produksi yang tinggi bila dibandingkan dengan kecamatan lainnya. Sedangkan  luas lahan tersempit dan  produksi terendah yaitu pada Kecamatan Kuala. Luas areal pengembangan kakao berdasarkan data Dinas Perkebunan dan Kehutanan  Kabupaten Bireuen terus mengalami peningkatan dari tahun 2012 hingga tahun 2016. Umtuk mengetahui pengembangan luas areal, produksi dan produktivitas kakao di Kabuapten Bireuen dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 2. Perkembangan Jumlah Areal, Produksi dan Produktivitas Kakao di Kabupaten Bireuen Tahun 2012-2016
Tahun
Komposisi Tanaman,an/ Composition of Annual Plants (Ha)
Produksi/ Production (Ton)
Produktivitas/ Productivity (Kg/Ha)
T.B.M
T.M
T.R
Total
2012
1 418
3 877
      60
5 355
11 891.03
3 067
2013
1 959
3 923
      60
5 942
3 882.87
 990
2014
2 627
3 763
    281
6 671
2 540.00
 675
2015
2 693
3 768
    417
6 868
2 438.85
 650
2016
2 973
4 095
 426
7 494
2 685.35
 656

Sumber : Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Bireuen (2016)

            Berdasarkan Tabel 2. Terlihat bahwa pengembangan jumlah areal tanaman kakao terus mengalami peningkatan dari tahun 2012 hingga tahun 2016, namun peningkatan luas areal ini tidak diikuti dengan kenaikan jumlah produksi dan produktivitas kakao. Dengan demikian maka diperlukan penelitian yang mendalam untuk mengatasi masalah ini.
Peningkatan produktivitas kakao harus terus dilakukan dengan upaya petani melakukan upaya peningkatan produksi kakao. Peningkatan ini dilakukan dengan memperbaiki perawatan tanaman kakao dan juga penanganan pascapanen yang baik sehingga produksi kakao yang ada di Kecamatan Juli mampu bersaing dipasar, memberikan nilai tambah sehingga pendapatan petani meningkat dan dapat meningkatkan kesejahteraan petani.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka dirumuskan permasalahan penelitian ini adalah faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi produksi kakao di Kecamatan Juli Kabupaten Bireuen ?
1.3. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi produksi kakao di Kecamatan Juli Kabupaten Bireuen.
1.4 Manfaat Penelitian
            Adapun hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut :
1.      Bagi Petani, diharapkan dapat berguna sebagai sumbangan informasi yang berkenaan dengan faktor-faktor produksi kakao khususnya di Kecamatan Juli Kabupaten Bireuen.
2.      Bagi Pemerintah, dapat menjadi bahan masukan dalam mengambil kebijakan untuk membantu petani dalam meningkatkan produksi kakao di Kecamatan Juli Kabupaten Bireuen.
           



BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Produksi
            Produksi merupakan hasil akhir dalam proses atau aktivitas ekonomi dan memanfaatkan beberapa masukan atau input (Joerson dan Fathorrozi, 2003). Dengan pengertian ini dapat dipahami bahwa kegiatan produksi adalah mengkombinasikan berbagai inpu atau masukan untuk menghasilkan ouput.
            Ahyari (2004) menyatakan produksi diartikan sebagai kegiatan yang dapat menimbulkan tambahan manfaat dan penciptaan faedah baru, faedah atau manfaat tersebut dapat terdiri dari beberapa macam, misalnya faedah bentuk, faedah waktu, faedah tempat serta kombinasi daeri faedah-faedah di atas. Apabila terdapat suatu kegiatan yang dapat menimbulkan manfaat baru atau menambah manfaat yang sudah ada maka kegiatan tersebut disebut sebagai kegiatan produksi.

2.2 Teori Produksi
            Produksi adalah segala kegiatan yang menambah nilai guna suatu barang atau jasa. Sehingga dapat memenuhi kebutuhan manusia dengan cara yang paling efisien (Pamor dan Domiri, 1980).
            Koutsoyiannis (1997), mengatakan bahwa produksi adalah proses atau aktifitas yang mengkombinasikan faktor input yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu unit ouput, yang biasayna satu komoditas dihasilkan dari berbagai macam kombinasi input dengan berfokus hanya pada metode efesien.
            Namun bagi pengusaha yang rasional akan memilih metode produksi yang paling efisisen dalam memproduksi output. Input meruapakan sumber daya yang dimanfaatkan dan biasa disebut sebagai faktor produksi. Faktor produksi dibagi menjadi tiga unsur, yaitu luas lahan, modal serta tenaga kerja.
            Apabila pengertian produksi di atas dikaitkan dengan produksi pertanian maka Hernanto (1994) mengemukakan bahwa produksi pertanian adalah hasil yang diperoleh sebagai akibat bekerjanya faktor-faktor produksi terutama faktor produksi modal, luas lahan dan tenaga kerja.

2.3 Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Produksi
            Dalam usahatani, produksi diperoleh melalui suatu proses yang cukup  panjang dan penuh resiko. Panjangnya waktu yang dibutuhkan tidak sama  tergantung pada jenis komoditas yang diusahakan. Tidak hanya waktu, kecukupan  faktor produksi pun ikut sebagai penentu pencapaian produksi. Proses produksi baru bisa berjalan bila persyaratan ini yang dibutuhkan dapat dipenuhi. Persyaratan ini lebih dikenal dengan nama faktor produksi. Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi dalam usahatani yaitu sebagai berikut:
a.        Luas Lahan
Tanah merupakan faktor produksi yang memiliki kedudukan penting dalam suatu usahatani. Tanah merupakan syarat mutlak bagi petani untuk dapat memproduksi kakao. Dengan memiliki lahan yang cukup berarti petani sudah mempunyai modal utama yang sangat berharga sebagai seorang petani karena pada lahan inilah petani akan melakukan proses produksi sehingga menghasilkan kakao. Faktor produksi tanah ini termasuk didalamnya air, udara, temperatur, sinar matahari dan laiinya. Keberadaan fungsi tanah tidak hanya dilihat dari segi luas atau sempitnya, tetapi juga jenis tanah, macam penggunaan lahan, tegalan, topografi, pemilik tanah dan lainnya (Daniel, 2002).
Dalam sektor pertanian luas lahan merupakan luas areal tanah yang disiapkan untuk melakukan usaha produksi pertanian yang dinyatakan dalam satuan luas hektare. Luas lahan sangat menentukan besar kecilnya produksi dikarenakan semakin luas lahan yang digunakan untuk melakukan usaha tani maka semakin tinggi pula produksi yang dihasilkan begitupula sebaliknya.

b.        Tenaga Kerja
Tenaga kerja merupakan faktor yang sangat penting dalam produksi, karena tenaga kerja merupakan faktor penggerak faktor input yang lain, tanpa adanya tenaga kerja maka faktor produksi lain tidak akan berarti (Soekartawi, 2003). Dengan meningkatnya produktifitas tenaga kerja akan mendorong penignkatan produksi sehingga pendapatannya  akan ikut meningkat.
Tenaga kerja dalam usahatani terdiri tenaga kerja dalam keluarga dan tenaga kerja luar keluarga. Tenaga kerja luar keluarga dipekerjakan disaat tenaga kerja dalam keluarga tidak sanggup menyelesaikan usahatani tersebut. Seluruh tenaga kerja diupah atau digaji sesuai dengan tingkat upah kerja yang berlaku. Pada usaha pertanian kecil petani berfungsi ganda, disatu pihak sebagai tenaga kerja dalam usahataninya dan dipihak lain petani sebagai manajer dalam usaha ini.

c.         Pupuk
Pupuk adalah suatu bahan yang bersifat organik ataupun anorganik, bila ditambahkan ke dalam tanah ataupun tanaman dapat menambah unsur hara serta dapat memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah, atau keseburan tanah. Pupuk banyak macam dan jenis-jenisnya serta berbeda pula sifat-sifatnya dan berbeda pula reaksi dan peranannya di dalam tanah dan tanaman. Karena hal-hal tersebut di aatas agar diperoleh hasil pemupukan yang efisien dan tidak merusak akar tanaman maka perlulah diketahui sifat, macam dan jenis pupuk dan cara pemberian pupuk yang tepat (Hasibuan, 2006).
d.        Pestisida
Pestisida adalah substansi (zat) kimia yang digunakan untuk membunuh atau mengendalikan hama. Berdasarkan asal katanya pestisida berasal dari bahasa inggris yaitu pest berarti hama dan cida berarti pembunuh.
Pestisida yang digunakan di bidang pertanian secara spesifik sering disebut produk perlidungan tanaman (crop protection product) untuk membedakannya dari produk-produk yang digunakan dibidang lain  (Djojosumarto, 2008). Pengelolaan pestisida adalah kegiatan meliputi pembuatan, pengangkutan, penyimpanan, peragaan, penggunaan dan pembuangan / pemusnahan pestisida.

2.4 Fungsi Produksi Cobb Douglass
            Fungsi produksi Cobb Douglass adalah suatu fungsi atau persamaan yang melibatkan dua atau lebih variabel, dimana yang satu disebut dengan variabel dependen, yang dijelaskan (Y) dan yang lain disebut varibel independen, yang menjelaskan (X) (Soekartawi, 2003).
Secara umum fungsi produksi Cobb Douglass dapat ditulis sebagai berikut :
Y = ......
Bila fungsi ini dinyatakan dalam hubungan Y dan X, maka :
Y = f(X1,X2,...Xi....,Xn)
Keterangan :
Y         = Variabel yang dijelaskan
X         =  Variabel yang menjelaskan
a,b       = Besaran yang akan diduga
u          = Kesalahan
e          = Logaritma natural

 Untuk mempermudah perhitungan, fungsi tersebut kemudian diransformasikan dalam bentuk linear logaritma, sehingga bentuk persamaan matematisnya menjadi :
LnY=  a + b ln + ln ....e
            Dengan meregresi persamaan diatas maka secara terlihat bahwa nilai  dan  adalah tetap walaupun variabel yang terlibat telah di logaritmakan. Hal ini dapat dimengerti karen  pada fungsi Cobb Douglass adalah menunjukkan elastisitas X terhadap Y. Jadi, salah satu kemudahan dari fungsi produksi Cobb Douglass adalah secara mudah dapat dibuat linear sehingga relatif mudah dalam melakukan analisis.
2.5  Penelitian Terdahulu
Endang (2004), “Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi Kopi Rakyat di Kabupaten Temanggung (studi kasus di kecamatan Candiroto Kabupaten Temanggung)”. Analsis yang digunakan adalah analisis fungsi produksi Cobb Douglas. Berdasarkan penelitiannya bahwa hasil uji-t variabel luas lahan, jumlah tanaman, jumlah pupuk memberikan pengaruh positif yang signifikan hingga taraf 5% terhadap produksi kopi di Kabupaten Temanggung. Sedangkan variabel tenaga kerja mempunyai hubungan yang negatif dab tidak signifikan terhadap peroduksi kopi di Kabupaten Temanggung.
Asrar (2015), “Analisis Produksi Usaha Tani Kakao di Desa Masari Kecamatan Parigi Selatan Kabupaten Parigi Moutong”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jumlah tanaman penggunaan pupuk, pestisida, dan tenaga kerja terhadap produksi usahatani kakao di Desa Masari Kecamatn Parigi Selatan Kabupaten Parigi Moutong. Analisis yang digunakan adalah analisis Cobb Douglas. Hasil analisis menunjukkan nilai koefien determinasi () sebesar 0.856, hal ini diartikan variabel produksi usahatani kakao sebesar 85,6% dipengaruhi oleh variabel bebas yang diteliti oleh peneliti, sedangkan sisanya dipengaruhi oleh variabel lain diluar model. Hasil uji-F menunjukkan bhawa secara serempak variabel jumlah tanaman, penggunaan pupuk, pestisida dan tenaga kerja berpengaruh nyata terhadap produksi kakao. Hasil uji-t menjelaskan bahwa secara masing-masing variabel (X) berpengaruh nyata terhadap produksi usahatani kakao di Desa Masari Kecamatan Parigi Selatan Kabupaten Parigi Moutong.
2.6 Hipotesis
                Berdasarkan latar belakang, perumusan masalah dan tujuan penelitian maka dapat dirumuskan hipotesisnya yaitu, luas lahan (X1), tenaga kerja (X2), pupuk (X3)  dan pestisida (X4) berpengaruh signifikan terhadap produksi kakao di Kecamatan Juli Kabupaten Bireuen.



2.6   
BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Lokasi, Ruang Lingkup, Objek dan Waktu Penelitian
            Penelitian dilakukan dengan memusatkan pada petani kakao yang ada di Kecamatan Juli Kabupaten Bireuen. Ruang lingkup penelitian ini difokuskan pada faktor-faktor yang mempengaruhi produksi kakao di Kecamatan Juli. Penelitian ini hanya berfokus pada sisi produksi yaitu luas lahan, tenaga kerja dan modal. Objek dalam penelitian ini adalah petani kakao yang berada di lokasi penelitian. Penelitian ini dilakukan pada tahun 2017.
3.2 Jenis dan Sumber Data
            Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari petani dari hasil wawancara dengan pertanyaan telah disiapkan terlebih dahulu. Sedangkan data sekunder adalah data yang diperoleh dari lembaga-lembaga seperi BPS bireuen.
3.3 Populasi dan Sampel
            Populasi dalam penelitian ini adalah petani yang membudidayakan kakao di Kecamatan Juli Kabupaten Bireuen. Populasi yang dijadikan sampel dalam penelitian diambil secara acak atau metode random sampel.



3.4  Metode Analisis Data
Metode analisis merupakan suatu usaha untuk menentukan jawaban atas pertanyaan tentang rumusan dan hal-hal yang diperoleh dalam suatu penelitian. Data yang sudah masuk dan sudah terkumpul dianalisis untuk menjawab tujuan dari penelitian. Teknik analisis data disesuaikan dengan tujuan penelitian. Adapun teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
3.4.1        Analisis Fungsi Produksi Cobb Douglas
Dalam penelitian menganalisis faktor – faktor yang mempengaruhi produksi kakao di Kecamatan Juli Kabupaten Bireuen ini menggunakan fungsi produksi Cobb Douglass dengan menggunakan metode Ordenary Least Square (OPS). Fungsi produksi Cobb Douglass adalah suatu fungsi atau persamaan yang melibatkan dua atau lebih variabel, dimana yang satu disebut dengan variabel dependen, yang dijelaskan (Y) dan yang lain disebut varibel independen, yang menjelaskan (X) (Soekartawi, 2003).
Secara umum fungsi produksi Cobb Douglass dapat ditulis sebagai berikut :
Y = ......
Bila fungsi ini dinyatakan dalam hubungan Y dan X, maka :
Y = f(X1,X2,...Xi....,Xn)
Keterangan :
Y         = Variabel yang dijelaskan
X         =  Variabel yang menjelaskan
a,b       = Besaran yang akan diduga
u          = Kesalahan
e          = Logaritma natural
 Untuk mempermudah perhitungan, fungsi tersebut kemudian diransformasikan dalam bentuk linear logaritma, sehingga bentuk persamaan matematisnya menjadi :
LnY=  a + b ln + ln ....e
            Dengan meregresi persamaan diatas maka secara terlihat bahwa nilai  dan  adalah tetap walaupun variabel yang terlibat telah di logaritmakan. Hal ini dapat dimengerti karen  pada fungsi Cobb Douglass adalah menunjukkan elastisitas X terhadap Y. Jadi, salah satu kemudahan dari fungsi produksi Cobb Douglass adalah secara mudah dapat dibuat linear sehingga relatif mudah dalam melakukan analisis.
3.4.2        Uji Asumsi Klasik
Suatu model dikatakan baik untuk alat prediksi apabila mempunyai sifat-sifat tidak bias linier terbaik suatu penaksir. Selain itu suatu model dikatakan cukup baik dan dapat untuk memprediksi apabila sudah lolos dari serangkaian uji asumsi klasik yang melandasinya. Dalam penelitian ini digunakan uji asumsi klasik yang terdiri dari:
a.      Uji Multiklonieritas
Uji multiklonieritas berfungsi untuk menguji apakah pada model regresi terdapat suatu hubungan linear yang sempurna (mendekati sempurna) antara beberapa atau sesama variabel bebasnya. Uji dilakukan dengan nilai VIF, jika nilai VIF lebih besar dari 10 maka terdapat multiklonieritas pada data.
b.      Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Data dikatakan normal apabila titik dalam scatter plot mengikuti garis linear.
c.       Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan menguji apakaah model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual suatu pengamatan ke pengamatan yang lain. Model regresi yang baik yaitu homoskedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas. Heteroskedastisitas terjadi ketika titik kecil dalam sactter plot membentuk pola.

3.5   Kerangkan Pemikiran
 

 


3.6  Definisi Operasional Variabel
1.      Petani kakao adalah petani yang melakukan budidaya kakao di Kecamata Juli Kabupaten Bireuen.
2.      Karekteristik petani yaitu umur, pendidikan, jumlah tanggungan dan pengalam petani kakao yang ada di Kecamata Juli Kabupaten Bireuen.
3.      Usahatani kakao adalah kegiatan budidaya kakao oleh petani kakao di Kecamata Juli Kabupaten Bireuen.
4.      Produksi kakao adalah jumlah hasil fisik yang diperoleh dari usahatani kakao yang dinyatakan dalam satuan ton di Kecamata Juli Kabupaten Bireuen.




DAFTAR PUSTAKA

Ahyari, A. 2004. Manajemen Produksi. Edisi Kedua, BPFE UGM. Yogyakarta.
Djojosumarto, P. 2008. Pestisida dan Aplikasinya. Agromedia Pustaka. Jakarta.
Hasibuan, B.E., 2006. Pupuk dan Pemupukan. Universitas Sumatera Utara, Fakultas Pertanian. Medan.
Hatta, R. Gemala. 2008. Pedoman Manajemen Informasi Pembelian dan Penjualan. Universitas Indonesia. Jakarta.
Hernanto Fadholi. 1994. Ilmu Usaha Tani. Jakarta. Heru.
Joesran dan Fathorrozi. 2003. Basic Econometrics, Fourth Edition, McGraw Hill, New York.
Koutsoyiannis, A. 1997. Modem Economics. The Macmillan Press ltd. Londonand Bassingtoke.
Soekartawi. 2003. Teori Ekonomi Produksi dengan Pokok Bahasan Analisis Fungsi Cobb-Douglass, PT.Raja Grafindo Persada. Jakarta.


Analasis Pengaruh Atribut Terhadap Keputusan Konsumen dalam memilih Produk Top Coffee di Kota Bireuen

BAB I PENDAHULUAN 1.1   Latar Belakang Di indonesia kopi adalah komoditi industri pertanian yang sangat penting. Usaha produksi kop...