Tuesday, February 13, 2018

Proposal Penelitian Skripsi "Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi Kakao"

BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Tanaman perkebunan merupakan komoditas yang memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi. Apabila dimanfaatkan dengan baik akan menambahkan devisa negara. Telah banyak upaya pemerintah meningkatkan produksi subsektor perkebunan misalnya dengan cara intensifikasi, ekstensifikasi, diversifikasi dan rehabilitasi. Salah satu tanaman perkebunan yang diharapkan memberikan sumbangan devisa negara sebagai komoditi ekspor adalah komoditi kakao.
Komoditi kakao diharapkan dapat menduduki tempat yang sejajar dengan komoditi perkebunan lainnya, seperti kelapa sawit dan karet (Siregar et al., 2015). Kakao merupakan salah satu komoditas yang sangat vital, baik sebagai sumber kehidupan bagi jutaan petani maupun sebagai salah satu bahan penyedap yang sangat diperlukan untuk memproduksi makanan seperti kue-kue dan bebagai jenis minuman, limbah kulit buah kakao juga dapat dijadikan sebagaibahan ternak.
Kakao merupakan komoditas yang sangat penting dalam dunia perdagangan internasional, pihak produsen kakao dihadapkan berbagai masalah yang besar terhadap keberlangsungan usaha dan kehidupan petani kakao yaitu produktivitas yang belum maksimal, hama, penyakit serta harga biji kakao dipasar internasional yang sering mengalami fluktuasi (Hatta, 2008).
Produksi kakao di Indonesia dihasilkan dari perkebunan negara, perkebunan swasta dan perkebunan rakyat. Lokasi perkebunan kakao dalam skala besar yang diusahakan oleh perusahaan perkebunan terletak di daerah Sumatera Utara, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sedangkan perkebunan rakyat terutama di Maluku, Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Timur, Irian Jaya dan Aceh.
Provinsi Aceh  merupakan salah satu provinsi yang terdapat usaha perkebunan kakao rakyat. Wilayah-wilayah sentra produksi kakao yang ada di Aceh yaitu Kabupaten Pidie, Pidie Jaya, Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Tenggara dan Bireuen. Lahan yang sudah ditanam kakao seluas 74.547 Ha dengan produksi 27.295 ton yang didominasi oleh perkebunan rakyat. Sedangkan luas lahan yang belum dimanfaatkan yaitu 258.067 Ha. Selain itu tanaman kakao sudah familiar dengan masyarakat setempat. Kakao juga merupakan salah satu komoditas unggulan ekspor di Provinsi Aceh.
Kabupaten Bireuen merupakan salah satu kabupaten yang sentra produksi perkebunan kakao di Provinsi Aceh. Salah satu kecamatan yang memiliki potensi dan peluang yang cukup besar untuk budidaya kako yaitu Kecamatan Juli. Kecamatan ini mayoritas penduduknya bermata pencaharian sebagai petani kakao. Kecamatan juli juga memiliki kondisi dan agrokilmat yang sangat mendukung sehingga memberikan kontribusi yang cukup besar dalam meningkatkan pendapatan petani dan perekeomian daerah. Untuk mengetahui luas areal dan produksi kakao di Bireuen dapat dilihat pada Tabel 1.




Tabel 1. Luas Tanaman dan  Produksi Tanaman Kakao Menurut Kecamatan di Kabupaten Bireuen.
Kecamatan/Sub District
Komposisi Tanaman,an/ Composition of Annual Plants (Ha)
Produksi/ Production (Ton)
Produktivitas/ Productivity (Kg/Ha)
T.B.M
T.M
T.R
Total
-1
-2
-3
-4
-5
-6
-7
1
Samalanga
        45
        19
      16
              80
          12.35
 650
2
Sp. Mamplam
      104
        93
      42
            239
          60.45
 650
3
Pandrah

        70
      117
      29
            216
          76.28
 652
4
Jeunieb

      282
      253
      46
            581
        164.70
 651
5
Peulimbang
133
      148
      16
            297
          95.46
 645
6
Peudada
302
      492
      48
            842
        322.26
 655
7
Juli

      923
1 153
      45
         2,121
        784.04
 680
8
Jeumpa

      327
      213
      34
            574
        138.45
 650
9
Kota Juang
        20
        12
        5
              37
            7.68
 640
10
Kuala

          2
          4
        2
                8
            2.56
 640
11
Jangka

          3
        97
      16
            116
          23.31
 240
12
Peusangan
      148
        85
      25
            258
          54.40
 640
13
Peusangan Selatan
      233
      571
      25
            829
        391.13
 685
14
Peusangan Sb Krueng
      122
      388
      46
            556
        258.02
 665
15
Makmur
      178
      346
      20
            544
        229.05
 662
16
Gandapura
        10
        49
        5
              64
          31.11
 635
17
Kuta Blang
        71
        55
        6
            132
          34.10
 620
Jumlah/Total
2 973
4 095
 426
7 494
2 685.35
 656

Sumber : Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Bireuen

            Berdasarkan data pada Tabel.1 dapat dilihat bahwa perkebunan kakao di Kabupaten Bireuen terdapat 17 kecamatan. Kecamatan Juli merupakan daerah yang potensial untuk dibudidayakan tanaman kakao. Kecamatan ini memiliki luas lahan perkebunan kakao yang luas dan produksi yang tinggi bila dibandingkan dengan kecamatan lainnya. Sedangkan  luas lahan tersempit dan  produksi terendah yaitu pada Kecamatan Kuala. Luas areal pengembangan kakao berdasarkan data Dinas Perkebunan dan Kehutanan  Kabupaten Bireuen terus mengalami peningkatan dari tahun 2012 hingga tahun 2016. Umtuk mengetahui pengembangan luas areal, produksi dan produktivitas kakao di Kabuapten Bireuen dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 2. Perkembangan Jumlah Areal, Produksi dan Produktivitas Kakao di Kabupaten Bireuen Tahun 2012-2016
Tahun
Komposisi Tanaman,an/ Composition of Annual Plants (Ha)
Produksi/ Production (Ton)
Produktivitas/ Productivity (Kg/Ha)
T.B.M
T.M
T.R
Total
2012
1 418
3 877
      60
5 355
11 891.03
3 067
2013
1 959
3 923
      60
5 942
3 882.87
 990
2014
2 627
3 763
    281
6 671
2 540.00
 675
2015
2 693
3 768
    417
6 868
2 438.85
 650
2016
2 973
4 095
 426
7 494
2 685.35
 656

Sumber : Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Bireuen (2016)

            Berdasarkan Tabel 2. Terlihat bahwa pengembangan jumlah areal tanaman kakao terus mengalami peningkatan dari tahun 2012 hingga tahun 2016, namun peningkatan luas areal ini tidak diikuti dengan kenaikan jumlah produksi dan produktivitas kakao. Dengan demikian maka diperlukan penelitian yang mendalam untuk mengatasi masalah ini.
Peningkatan produktivitas kakao harus terus dilakukan dengan upaya petani melakukan upaya peningkatan produksi kakao. Peningkatan ini dilakukan dengan memperbaiki perawatan tanaman kakao dan juga penanganan pascapanen yang baik sehingga produksi kakao yang ada di Kecamatan Juli mampu bersaing dipasar, memberikan nilai tambah sehingga pendapatan petani meningkat dan dapat meningkatkan kesejahteraan petani.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka dirumuskan permasalahan penelitian ini adalah faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi produksi kakao di Kecamatan Juli Kabupaten Bireuen ?
1.3. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi produksi kakao di Kecamatan Juli Kabupaten Bireuen.
1.4 Manfaat Penelitian
            Adapun hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut :
1.      Bagi Petani, diharapkan dapat berguna sebagai sumbangan informasi yang berkenaan dengan faktor-faktor produksi kakao khususnya di Kecamatan Juli Kabupaten Bireuen.
2.      Bagi Pemerintah, dapat menjadi bahan masukan dalam mengambil kebijakan untuk membantu petani dalam meningkatkan produksi kakao di Kecamatan Juli Kabupaten Bireuen.
           



BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Produksi
            Produksi merupakan hasil akhir dalam proses atau aktivitas ekonomi dan memanfaatkan beberapa masukan atau input (Joerson dan Fathorrozi, 2003). Dengan pengertian ini dapat dipahami bahwa kegiatan produksi adalah mengkombinasikan berbagai inpu atau masukan untuk menghasilkan ouput.
            Ahyari (2004) menyatakan produksi diartikan sebagai kegiatan yang dapat menimbulkan tambahan manfaat dan penciptaan faedah baru, faedah atau manfaat tersebut dapat terdiri dari beberapa macam, misalnya faedah bentuk, faedah waktu, faedah tempat serta kombinasi daeri faedah-faedah di atas. Apabila terdapat suatu kegiatan yang dapat menimbulkan manfaat baru atau menambah manfaat yang sudah ada maka kegiatan tersebut disebut sebagai kegiatan produksi.

2.2 Teori Produksi
            Produksi adalah segala kegiatan yang menambah nilai guna suatu barang atau jasa. Sehingga dapat memenuhi kebutuhan manusia dengan cara yang paling efisien (Pamor dan Domiri, 1980).
            Koutsoyiannis (1997), mengatakan bahwa produksi adalah proses atau aktifitas yang mengkombinasikan faktor input yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu unit ouput, yang biasayna satu komoditas dihasilkan dari berbagai macam kombinasi input dengan berfokus hanya pada metode efesien.
            Namun bagi pengusaha yang rasional akan memilih metode produksi yang paling efisisen dalam memproduksi output. Input meruapakan sumber daya yang dimanfaatkan dan biasa disebut sebagai faktor produksi. Faktor produksi dibagi menjadi tiga unsur, yaitu luas lahan, modal serta tenaga kerja.
            Apabila pengertian produksi di atas dikaitkan dengan produksi pertanian maka Hernanto (1994) mengemukakan bahwa produksi pertanian adalah hasil yang diperoleh sebagai akibat bekerjanya faktor-faktor produksi terutama faktor produksi modal, luas lahan dan tenaga kerja.

2.3 Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Produksi
            Dalam usahatani, produksi diperoleh melalui suatu proses yang cukup  panjang dan penuh resiko. Panjangnya waktu yang dibutuhkan tidak sama  tergantung pada jenis komoditas yang diusahakan. Tidak hanya waktu, kecukupan  faktor produksi pun ikut sebagai penentu pencapaian produksi. Proses produksi baru bisa berjalan bila persyaratan ini yang dibutuhkan dapat dipenuhi. Persyaratan ini lebih dikenal dengan nama faktor produksi. Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi dalam usahatani yaitu sebagai berikut:
a.        Luas Lahan
Tanah merupakan faktor produksi yang memiliki kedudukan penting dalam suatu usahatani. Tanah merupakan syarat mutlak bagi petani untuk dapat memproduksi kakao. Dengan memiliki lahan yang cukup berarti petani sudah mempunyai modal utama yang sangat berharga sebagai seorang petani karena pada lahan inilah petani akan melakukan proses produksi sehingga menghasilkan kakao. Faktor produksi tanah ini termasuk didalamnya air, udara, temperatur, sinar matahari dan laiinya. Keberadaan fungsi tanah tidak hanya dilihat dari segi luas atau sempitnya, tetapi juga jenis tanah, macam penggunaan lahan, tegalan, topografi, pemilik tanah dan lainnya (Daniel, 2002).
Dalam sektor pertanian luas lahan merupakan luas areal tanah yang disiapkan untuk melakukan usaha produksi pertanian yang dinyatakan dalam satuan luas hektare. Luas lahan sangat menentukan besar kecilnya produksi dikarenakan semakin luas lahan yang digunakan untuk melakukan usaha tani maka semakin tinggi pula produksi yang dihasilkan begitupula sebaliknya.

b.        Tenaga Kerja
Tenaga kerja merupakan faktor yang sangat penting dalam produksi, karena tenaga kerja merupakan faktor penggerak faktor input yang lain, tanpa adanya tenaga kerja maka faktor produksi lain tidak akan berarti (Soekartawi, 2003). Dengan meningkatnya produktifitas tenaga kerja akan mendorong penignkatan produksi sehingga pendapatannya  akan ikut meningkat.
Tenaga kerja dalam usahatani terdiri tenaga kerja dalam keluarga dan tenaga kerja luar keluarga. Tenaga kerja luar keluarga dipekerjakan disaat tenaga kerja dalam keluarga tidak sanggup menyelesaikan usahatani tersebut. Seluruh tenaga kerja diupah atau digaji sesuai dengan tingkat upah kerja yang berlaku. Pada usaha pertanian kecil petani berfungsi ganda, disatu pihak sebagai tenaga kerja dalam usahataninya dan dipihak lain petani sebagai manajer dalam usaha ini.

c.         Pupuk
Pupuk adalah suatu bahan yang bersifat organik ataupun anorganik, bila ditambahkan ke dalam tanah ataupun tanaman dapat menambah unsur hara serta dapat memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah, atau keseburan tanah. Pupuk banyak macam dan jenis-jenisnya serta berbeda pula sifat-sifatnya dan berbeda pula reaksi dan peranannya di dalam tanah dan tanaman. Karena hal-hal tersebut di aatas agar diperoleh hasil pemupukan yang efisien dan tidak merusak akar tanaman maka perlulah diketahui sifat, macam dan jenis pupuk dan cara pemberian pupuk yang tepat (Hasibuan, 2006).
d.        Pestisida
Pestisida adalah substansi (zat) kimia yang digunakan untuk membunuh atau mengendalikan hama. Berdasarkan asal katanya pestisida berasal dari bahasa inggris yaitu pest berarti hama dan cida berarti pembunuh.
Pestisida yang digunakan di bidang pertanian secara spesifik sering disebut produk perlidungan tanaman (crop protection product) untuk membedakannya dari produk-produk yang digunakan dibidang lain  (Djojosumarto, 2008). Pengelolaan pestisida adalah kegiatan meliputi pembuatan, pengangkutan, penyimpanan, peragaan, penggunaan dan pembuangan / pemusnahan pestisida.

2.4 Fungsi Produksi Cobb Douglass
            Fungsi produksi Cobb Douglass adalah suatu fungsi atau persamaan yang melibatkan dua atau lebih variabel, dimana yang satu disebut dengan variabel dependen, yang dijelaskan (Y) dan yang lain disebut varibel independen, yang menjelaskan (X) (Soekartawi, 2003).
Secara umum fungsi produksi Cobb Douglass dapat ditulis sebagai berikut :
Y = ......
Bila fungsi ini dinyatakan dalam hubungan Y dan X, maka :
Y = f(X1,X2,...Xi....,Xn)
Keterangan :
Y         = Variabel yang dijelaskan
X         =  Variabel yang menjelaskan
a,b       = Besaran yang akan diduga
u          = Kesalahan
e          = Logaritma natural

 Untuk mempermudah perhitungan, fungsi tersebut kemudian diransformasikan dalam bentuk linear logaritma, sehingga bentuk persamaan matematisnya menjadi :
LnY=  a + b ln + ln ....e
            Dengan meregresi persamaan diatas maka secara terlihat bahwa nilai  dan  adalah tetap walaupun variabel yang terlibat telah di logaritmakan. Hal ini dapat dimengerti karen  pada fungsi Cobb Douglass adalah menunjukkan elastisitas X terhadap Y. Jadi, salah satu kemudahan dari fungsi produksi Cobb Douglass adalah secara mudah dapat dibuat linear sehingga relatif mudah dalam melakukan analisis.
2.5  Penelitian Terdahulu
Endang (2004), “Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi Kopi Rakyat di Kabupaten Temanggung (studi kasus di kecamatan Candiroto Kabupaten Temanggung)”. Analsis yang digunakan adalah analisis fungsi produksi Cobb Douglas. Berdasarkan penelitiannya bahwa hasil uji-t variabel luas lahan, jumlah tanaman, jumlah pupuk memberikan pengaruh positif yang signifikan hingga taraf 5% terhadap produksi kopi di Kabupaten Temanggung. Sedangkan variabel tenaga kerja mempunyai hubungan yang negatif dab tidak signifikan terhadap peroduksi kopi di Kabupaten Temanggung.
Asrar (2015), “Analisis Produksi Usaha Tani Kakao di Desa Masari Kecamatan Parigi Selatan Kabupaten Parigi Moutong”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jumlah tanaman penggunaan pupuk, pestisida, dan tenaga kerja terhadap produksi usahatani kakao di Desa Masari Kecamatn Parigi Selatan Kabupaten Parigi Moutong. Analisis yang digunakan adalah analisis Cobb Douglas. Hasil analisis menunjukkan nilai koefien determinasi () sebesar 0.856, hal ini diartikan variabel produksi usahatani kakao sebesar 85,6% dipengaruhi oleh variabel bebas yang diteliti oleh peneliti, sedangkan sisanya dipengaruhi oleh variabel lain diluar model. Hasil uji-F menunjukkan bhawa secara serempak variabel jumlah tanaman, penggunaan pupuk, pestisida dan tenaga kerja berpengaruh nyata terhadap produksi kakao. Hasil uji-t menjelaskan bahwa secara masing-masing variabel (X) berpengaruh nyata terhadap produksi usahatani kakao di Desa Masari Kecamatan Parigi Selatan Kabupaten Parigi Moutong.
2.6 Hipotesis
                Berdasarkan latar belakang, perumusan masalah dan tujuan penelitian maka dapat dirumuskan hipotesisnya yaitu, luas lahan (X1), tenaga kerja (X2), pupuk (X3)  dan pestisida (X4) berpengaruh signifikan terhadap produksi kakao di Kecamatan Juli Kabupaten Bireuen.



2.6   
BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Lokasi, Ruang Lingkup, Objek dan Waktu Penelitian
            Penelitian dilakukan dengan memusatkan pada petani kakao yang ada di Kecamatan Juli Kabupaten Bireuen. Ruang lingkup penelitian ini difokuskan pada faktor-faktor yang mempengaruhi produksi kakao di Kecamatan Juli. Penelitian ini hanya berfokus pada sisi produksi yaitu luas lahan, tenaga kerja dan modal. Objek dalam penelitian ini adalah petani kakao yang berada di lokasi penelitian. Penelitian ini dilakukan pada tahun 2017.
3.2 Jenis dan Sumber Data
            Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari petani dari hasil wawancara dengan pertanyaan telah disiapkan terlebih dahulu. Sedangkan data sekunder adalah data yang diperoleh dari lembaga-lembaga seperi BPS bireuen.
3.3 Populasi dan Sampel
            Populasi dalam penelitian ini adalah petani yang membudidayakan kakao di Kecamatan Juli Kabupaten Bireuen. Populasi yang dijadikan sampel dalam penelitian diambil secara acak atau metode random sampel.



3.4  Metode Analisis Data
Metode analisis merupakan suatu usaha untuk menentukan jawaban atas pertanyaan tentang rumusan dan hal-hal yang diperoleh dalam suatu penelitian. Data yang sudah masuk dan sudah terkumpul dianalisis untuk menjawab tujuan dari penelitian. Teknik analisis data disesuaikan dengan tujuan penelitian. Adapun teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
3.4.1        Analisis Fungsi Produksi Cobb Douglas
Dalam penelitian menganalisis faktor – faktor yang mempengaruhi produksi kakao di Kecamatan Juli Kabupaten Bireuen ini menggunakan fungsi produksi Cobb Douglass dengan menggunakan metode Ordenary Least Square (OPS). Fungsi produksi Cobb Douglass adalah suatu fungsi atau persamaan yang melibatkan dua atau lebih variabel, dimana yang satu disebut dengan variabel dependen, yang dijelaskan (Y) dan yang lain disebut varibel independen, yang menjelaskan (X) (Soekartawi, 2003).
Secara umum fungsi produksi Cobb Douglass dapat ditulis sebagai berikut :
Y = ......
Bila fungsi ini dinyatakan dalam hubungan Y dan X, maka :
Y = f(X1,X2,...Xi....,Xn)
Keterangan :
Y         = Variabel yang dijelaskan
X         =  Variabel yang menjelaskan
a,b       = Besaran yang akan diduga
u          = Kesalahan
e          = Logaritma natural
 Untuk mempermudah perhitungan, fungsi tersebut kemudian diransformasikan dalam bentuk linear logaritma, sehingga bentuk persamaan matematisnya menjadi :
LnY=  a + b ln + ln ....e
            Dengan meregresi persamaan diatas maka secara terlihat bahwa nilai  dan  adalah tetap walaupun variabel yang terlibat telah di logaritmakan. Hal ini dapat dimengerti karen  pada fungsi Cobb Douglass adalah menunjukkan elastisitas X terhadap Y. Jadi, salah satu kemudahan dari fungsi produksi Cobb Douglass adalah secara mudah dapat dibuat linear sehingga relatif mudah dalam melakukan analisis.
3.4.2        Uji Asumsi Klasik
Suatu model dikatakan baik untuk alat prediksi apabila mempunyai sifat-sifat tidak bias linier terbaik suatu penaksir. Selain itu suatu model dikatakan cukup baik dan dapat untuk memprediksi apabila sudah lolos dari serangkaian uji asumsi klasik yang melandasinya. Dalam penelitian ini digunakan uji asumsi klasik yang terdiri dari:
a.      Uji Multiklonieritas
Uji multiklonieritas berfungsi untuk menguji apakah pada model regresi terdapat suatu hubungan linear yang sempurna (mendekati sempurna) antara beberapa atau sesama variabel bebasnya. Uji dilakukan dengan nilai VIF, jika nilai VIF lebih besar dari 10 maka terdapat multiklonieritas pada data.
b.      Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Data dikatakan normal apabila titik dalam scatter plot mengikuti garis linear.
c.       Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan menguji apakaah model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual suatu pengamatan ke pengamatan yang lain. Model regresi yang baik yaitu homoskedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas. Heteroskedastisitas terjadi ketika titik kecil dalam sactter plot membentuk pola.

3.5   Kerangkan Pemikiran
 

 


3.6  Definisi Operasional Variabel
1.      Petani kakao adalah petani yang melakukan budidaya kakao di Kecamata Juli Kabupaten Bireuen.
2.      Karekteristik petani yaitu umur, pendidikan, jumlah tanggungan dan pengalam petani kakao yang ada di Kecamata Juli Kabupaten Bireuen.
3.      Usahatani kakao adalah kegiatan budidaya kakao oleh petani kakao di Kecamata Juli Kabupaten Bireuen.
4.      Produksi kakao adalah jumlah hasil fisik yang diperoleh dari usahatani kakao yang dinyatakan dalam satuan ton di Kecamata Juli Kabupaten Bireuen.




DAFTAR PUSTAKA

Ahyari, A. 2004. Manajemen Produksi. Edisi Kedua, BPFE UGM. Yogyakarta.
Djojosumarto, P. 2008. Pestisida dan Aplikasinya. Agromedia Pustaka. Jakarta.
Hasibuan, B.E., 2006. Pupuk dan Pemupukan. Universitas Sumatera Utara, Fakultas Pertanian. Medan.
Hatta, R. Gemala. 2008. Pedoman Manajemen Informasi Pembelian dan Penjualan. Universitas Indonesia. Jakarta.
Hernanto Fadholi. 1994. Ilmu Usaha Tani. Jakarta. Heru.
Joesran dan Fathorrozi. 2003. Basic Econometrics, Fourth Edition, McGraw Hill, New York.
Koutsoyiannis, A. 1997. Modem Economics. The Macmillan Press ltd. Londonand Bassingtoke.
Soekartawi. 2003. Teori Ekonomi Produksi dengan Pokok Bahasan Analisis Fungsi Cobb-Douglass, PT.Raja Grafindo Persada. Jakarta.


Analasis Pengaruh Atribut Terhadap Keputusan Konsumen dalam memilih Produk Top Coffee di Kota Bireuen

BAB I PENDAHULUAN 1.1   Latar Belakang Di indonesia kopi adalah komoditi industri pertanian yang sangat penting. Usaha produksi kop...